RADARTUBAN - Jeda panjang Suganda Saputra dalam dunia desain kostum tak lantas membuat bakatnya meredup.
Justru setelah waktu panjang tersebut, dia sukses kembali dan mengukuhkan namanya sebagai seorang desainer kostum papan atas di berbagai ajang acara.
Langkah awal pria yang akrab disapa Ganda ini sebenarnya telah dirintis sejak tahun 2015. Berbekal darah seni yang mengalir dari kakeknya yang merupakan seorang penabuh gamelan, serta sang paman yang piawai di bidang seni rupa, dia mencoba peruntungan membuat kostum pertama.
Baca Juga: SMAN 5 TUBAN: Sang Juara Bertahan TSNC Mengusung Jaranan, Sandi Prajurit dari Tanah Tuban
Namun, besarnya modal yang dibutuhkan membuatnya berpikir ulang saat itu. Ganda lantas memilih fokus menuntaskan pendidikan di jurusan Seni Rupa sembari mengasah keterampilan melukis.
“Waktu 2015 itu pertama kali coba buat kostum. Tapi berhenti karena terkendala bujet yang lumayan besar kalau putaran modalnya tidak jalan," kenangnya ketika dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis (10/9) malam.
Kembali Berkarya di Tengah Pandemi
Takdir baru benar-benar memanggilnya kembali di awal 2020. Rencana awal untuk membangun karier di Surabaya terhalang gelombang pandemi COVID-19 yang memaksanya bertahan di kampung halaman.
Di tengah masa pembatasan sosial, Ganda mulai mengisi waktu dengan merangkai detail-detail kecil seperti earcuff (perhiasan telinga), mahkota mini, hingga aksesori unik lainnya.
Karakter desainnya yang autentik kemudian dilirik oleh salah seorang rekannya untuk turut serta dalam pemotretan profesional di Surabaya. Bukan hanya sekali, namun berulangkali desainnya dibutuhkan dalam aktivitas tersebut.
“Berhubung karakter aksesori saya dulu belum banyak yang mengadaptasi, saya langsung diajak teman yang juga desainer di surabaya untuk ikut dalam pemotretan, kurang lebih selama dua atau tiga tahun,” lanjutnya mengenang momen awal karirnya.
Merambah hingga Ajang Kelas Dunia
Seiring berjalannya waktu, portofolio karya pria asli Desa Tegalagung Kecamatan Semanding ini terus melambung tinggi.
Sentuhan jemarinya dipercaya melengkapi mahkota busana perwakilan Indonesia di ajang internasional pada 2024, disusul garapan traditional costume untuk kontestan Puteri Indonesia Kepulauan Riau di tahun 2025.
“Alhamdulillah sekali, karena dari usaha kecil kemudian kok berkembang dan sampai ada di tahap ini,” imbuhnya dengan penuh rasa syukur sekaligus tidak menyangka.
Tidak berhenti sampai disitu dan merasa berpuas hati, sebagai seorang desainer, lulusan Universitas PGRI Adi Buana Surabaya ini dituntut untuk terus berkembang dan selalu memperbarui karyanya.
Totalitas Demi Karya, Rela Tidur Dua Jam
Yang terbaru, buah tangan kreatifnya kembali terpancar saat dipercaya menggarap busana maskot utama untuk SMAN 5 Tuban, sekolah tempatnya kini mengabdi sebagai guru Seni Rupa, dalam ajang Tuban Specta Night Carnival (TSNC) 2026.
Mengangkat konsep Tari Jaranan yang didekonstruksi menjadi lebih elegan, Ganda memindahkan wujud jaran kepang menjadi ukiran hiasan kepala berbentuk kuda yang gagah perkasa, lengkap dengan komposisi warna penuh filosofi.
Mulai dari hitam yang disimbolkan sebagai kejadian kelam, merah sebagai tanda perjuangan, hingga emas sebagai filosofi dari sebuah masa kejayaan yang terpancar dalam tari jaranan.
Proses pengerjaan kostum maskot tersebut menuntut totalitas tanpa kompromi.
Dalam kurun waktu maraton dari Selasa hingga Sabtu sore, dia memangkas waktu tidurnya hingga tersisa satu-dua jam saja demi merampungkan karyanya.
Jemarinya terus berproses waktu demi waktu, menempelkan sendiri hampir satu kilogram permata sintetis, serta merangkai lima hingga enam lapis wig agar hiasan kepala dapat mengembang sempurna.
Usaha keras itu terbayar lunas setelah karya megah tersebut viral dan menyedot perhatian luas masyarakat di media sosial maupun saat gelaran TSNC 2026.
“Saat itu saya dan make up artist untuk kostum jaranan ini tidak menyangka jika akan viral, tapi alhamdulillah respon netizen di media sosial sangat positif,” ujarnya gembira.
Bangga Menjadi Inspirasi
Bagi Ganda, perjalanan panjang dari titik terendah di tahun 2015 hingga mencapai puncak sukses hari ini memberi pelajaran berharga tentang konsistensi. Sebagai seorang pencipta desain, pria kelahiran Mei ini bangga jika karyanya menjadi inspirasi bagi banyak desainer kostrum lainnya.
Selain meraih pundi-pundi materi, dia bersyukur keberhasilannya kini bisa memberi manfaat bagi penjahit lokal yang dilibatkannya dalam proses pembuatan kostum tersebut. Sebab, menurutnya sebuah apresiasi sangat diperlukan bagi seorang pencipta karya.
“Desain itu tidak berhenti disini saja dan perlu terus berkembang. Jadi untuk para desainer cobalah membuat karya asli milik sendiri, jangan hanya mengembangkan karya yang sudah ada, agar dunia desain ini bisa berkembang dengan baik. Desainer juga harus bisa untuk menciptakan gebrakan baru,” pungkasnya. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning MentariSumber : Radar Tuban