RADARTUBAN - Dikejar mepetnya masa persiapan yang tak sampai sebulan, tim mini soccer SMAN 5 Tuban terpaksa melahap porsi latihan ekstrem hingga dua kali sehari demi tampil maksimal dalam turnamen Bahlil Mini Soccer.
Kendati harus merasakan keterbatasan waktu dan juga minimnya fasilitas arena lapangan mini soccer di Tuban, skuad yang berisikan 17 pemain ini tetap optimistis menatap laga perdana Bahlil Mini Soccer menghadapi SMAN 1 Baureno esok hari, Senin (14/9).
Baca Juga: Usung Target Juara, Lima Tim Pelajar Tuban Semangat Ikuti Technical Meeting Bahlil Mini Soccer
Pacu Fisik di Lapangan Desa
Pelatih tim SMAN 5 Tuban, Rudianto, mengungkapkan bahwa masa persiapan anak asuhannya terbilang sangat terbatas sejak pemberitahuan turnamen Bahlil Mini Soccer ini pertama kali diterima.
Tantangan tak berhenti pada mepetnya jadwal, melainkan juga minimnya fasilitas lapangan mini soccer standar di Kabupaten Tuban.
Tak mau meratapi keadaan, Rudi beserta para anak asuhnya memutar otak dan berinisiatif memanfaatkan Lapangan Desa Sambongrejo yang berjarak tak jauh dari sekolah sebagai arena latihan alternatif.
"Mulai ada kabar turnamen Bahlil Mini Soccer, langsung saya segerakan latihan karena persiapannya sangat mepet, tidak sampai satu bulan," ujar Rudi melalui sambungan telepon, Jumat (11/9).
"Apalagi di Tuban tidak ada lapangan mini soccer, jadi kami harus cari solusi dengan berlatih di lapangan sepak bola biasa di Sambongrejo," sambungnya.
Demi mengejar ketertinggalan dan mematangkan taktik, frekuensi latihan yang semula dipatok tiga kali seminggu dipadatkan secara signifikan.
Belasan remaja yang mewakili SMAN 5 harus menjalani porsi latihan ekstra hingga dua kali dalam sehari, yakni pada pagi dan sore hari.
Menyiasati Latihan demi Skuad Proporsional
Menjalani porsi latihan ganda di tengah jadwal pelajaran tentu bukan perkara mudah, terlebih bagi para siswa kelas 12 yang tengah dihadapkan pada persiapan akademis.
Beruntung, dukungan penuh mengalir deras dari pihak sekolah yang memberikan dispensasi dan fleksibilitas jadwal tanpa mengabaikan kewajiban akademik siswa.
Untuk menyiasati beban belajar, komposisi skuad sengaja dirancang secara proporsional. Skuad tidak hanya mengandalkan siswa kelas XII.
Melainkan didominasi oleh talenta-talenta muda dari kelas X dan XI, gabungan dari latar belakang pemain sepak bola konvensional dan futsal.
"Alhamdulillah pihak sekolah selalu support penuh setiap ada kegiatan positif seperti ini. Untuk siswa kelas XII yang masuk tim hanya beberapa anak pilihan saja, selebihnya banyak anak kelas X dan XI,” imbuh Rudi.
“Jadi, pelajaran anak-anak kelas 3 tidak terlalu terganggu, dan anak-anak yang dipilih juga dilatih untuk pintar-pintar membagi waktu," lanjutnya menjelaskan.
Optimis Bidik Semifinal
Kendati harus melahap porsi fisik di bawah terik matahari dan penyesuaian lapangan dari rumput konvensional ke mini soccer, ikatan emosional dan karakter pantang menyerah anak-anak Tuban ini menjadi modal paling berharga.
Kebanyakan pemain yang sudah terbiasa mengolah si kulit bundar membuat proses adaptasi taktik berjalan lebih lancar.
Menatap laga perdana melawan SMAN 1 Baureno pada turnamen Bahlil Mini Soccer ini, Rudi menegaskan bahwa target timnya tidak berubah dari mimpi awal mereka untuk menembus partai semifinal.
"Anak-anak sudah terbiasa dengan sepak bola, jadi tinggal memoles kembali kebiasaan itu. Target kami tidak berubah, tetap membidik semifinal dan semoga bisa mewakili sekolah hingga ke putaran final. Keterbatasan bukan alasan untuk menyerah," tegas Rudi menutup pembicaraan. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning MentariSumber : Radar Tuban