RADARTUBAN - Tidak ada kata terlambat untuk belajar mengaji. Itulah yang menjadi dasar dari Majelis Langgar Milenial. Di sini berkumpul orang-orang dewasa yang ingin mengaji Alquran. Karena itu, meski usia sudah kepala tiga bahkan lansia, tanpa malu mengaji dimulai dari Iqro jilid satu.
‘’Alhamdu, walhamdu.’’ Suara itu terdengar dari pintu masuk lembaga pendidikan KB dan TK Alam Alifbata, Desa Mandirejo, Kecamatan Merakurak. Malam itu, di sebuah musala yang berada di samping ruang kelas yang pada pagi hingga sore digunakan anak-anak belajar, kini berganti suasana.
Di salah satu kelas, orang-orang dewasa duduk mengaji. Usianya beragam. Rata-rata sudah melewati kepala tiga. Sebagian bahkan telah lanjut usia. Rambut mereka mulai memutih. Namun, usia tidak menghalangi mereka untuk kembali belajar membaca Alquran.
Sebagian masih terbata-bata membaca Iqra. Sebagian lainnya sudah sampai pada Alquran. Tidak ada yang merasa malu memulai dari awal, bahkan dari Iqra jilid pertama.
Baca Juga: Jelang Laga Perdana Mini Soccer, Tim SMAN 5 Dua Kali Latihan Sehari
Mereka adalah anggota Majelis Langgar Milenial. Malam itu, sekitar 30 orang mengikuti kegiatan mengaji. Satu per satu membaca dan menyetorkan bacaan Alquran. Mayoritas masih terbata-bata. Maklum, mereka memang sedang belajar dari nol.
Masa muda mereka berlalu tanpa kemampuan membaca Alquran. Kini, ketika usia tidak lagi muda, mereka memilih kembali belajar.
Sekitar pukul 21.00, kegiatan mengaji selesai. Para jamaah kemudian berkumpul menghadap pengasuh sekaligus inisiator Langgar Milenial, Nurul Yaqin Anas. Gus Anas, sapaan akrabnya, memberikan tausiyah sebelum majelis ditutup.
Setelah itu, para santri dewasa tersebut beranjak pulang. Sebagian masih bertahan. Sekadar duduk dan mengobrol sebelum benar-benar meninggalkan tempat mengaji.
Bagi Gus Anas, Langgar Milenial memang sejak awal dimaksudkan sebagai ruang belajar bagi mereka yang terlambat mengenal Alquran.
Kisahnya bermula pada 2016. Saat itu, Gus Anas sedang ngopi bersama sejumlah teman. Obrolan yang semula biasa tiba-tiba berubah menjadi pembicaraan tentang agama. Pertanyaan yang muncul bahkan cukup dalam.
‘’Mereka ingin belajar toriqoh yang mudah tanpa tirakat dan puasa panjang,’’ ujarnya menirukan orang yang bertanya kepadanya sepuluh tahun lalu itu.
Gus Anas tidak langsung menjawab. Dia meminta teman-temannya datang ke kediamannya.
Beberapa hari kemudian, tepat pada Senin malam, tiga orang datang. Pertanyaan yang mereka ajukan masih sama: bagaimana cara mendekati Tuhan dengan mudah?
Pertanyaan itu terasa tidak biasa. Sebab, mereka yang datang justru memiliki latar belakang yang cukup jauh dari kehidupan keagamaan.
Gus Anas kemudian masuk ke rumah. Dia mengambil Alquran dan menyodorkannya kepada tiga orang tersebut. Responsnya di luar dugaan.‘’Tapi tiga orang itu malah senyam-senyum, ternyata mereka tidak bisa membaca Alquran,’’ kenangnya.
Baca Juga: Wisuda ke-VIII Prodistik MA Islamiyah Senori: Cetak Siswa Pintar Mengaji, Jago IT, dan Berprestasi
Alquran pun disimpan kembali. Gus Anas mengambil Iqra. Dia mencoba menyodorkan Iqra jilid enam, kemudian turun ke jilid berikutnya hingga jilid satu. Hasilnya sama. Mereka tidak bisa membaca.
Dari situlah pelajaran dimulai. Huruf alif, ba’, dan tsa diperkenalkan. Perlahan, tiga orang itu belajar. Ternyata mereka merasa nyaman.
Pertemuan kemudian dibuat rutin. Setiap Senin malam, Rabu malam, dan Jumat malam, mereka datang untuk mengaji. Tidak banyak orang pada awalnya.
Namun, kegiatan itu menyebar dari mulut ke mulut. Jumlah orang yang datang untuk belajar terus bertambah.
Mereka datang dari berbagai usia dan latar belakang. Ada juragan. Ada kontraktor. Ada tukang becak. Bahkan, ada bandar togel yang ikut duduk belajar membaca Alquran. Salah seorang anggota bahkan pernah keluar-masuk penjara.
‘’Karena pernah suatu hari itu salah satu anggota lama tidak terlihat, setelah beberapa bulan akhirnya datang ngaji lagi. Saat ditanya katanya baru keluar penjara,’’ ujarnya mengingat kejadian tersebut sambil geleng-geleng.
Bagi Gus Anas, latar belakang masa lalu bukan alasan untuk menutup pintu bagi seseorang yang ingin belajar. Mereka tetap menjadi bagian dari Langgar Milenial.
Sebab, tujuan mereka datang memang untuk belajar. Majelis itu, kata dia, dibuat sebagai rumah bagi siapa saja yang ingin memperbaiki diri dan bertemu dengan orang-orang yang memiliki keinginan serupa.
Perubahan pun mulai terlihat. ‘’Dari barokah ngaji, banyak dari mereka yang dulu jual towak karena sering ngaji akhirnya berhenti. Mereka yang suka judi pun berubah, karena saya yakin semua orang memiliki kesempatan untuk berubah,’’ ujarnya.
Mereka yang sebelumnya tidak bisa membaca Alquran perlahan mulai bisa. Dari yang terbata-bata, menjadi lebih lancar. Dari Iqra, sebagian kemudian beranjak membaca Alquran.
Jumlah santri pun terus bertambah. Langgar Milenial juga tidak berhenti pada kegiatan mengaji. Kepala KUA Merakurak itu mengatakan, para anggota juga kerap melakukan kegiatan sosial dan lingkungan.
Mereka, misalnya, bersama-sama membersihkan lingkungan. Ketika ada karnaval di Merakurak, pekerjaan mereka belum selesai ketika acara berakhir. Justru setelah keramaian bubar, mereka bergerak memunguti sampah yang berserakan.
Kebiasaan itu mendapat perhatian dari pemerintah kecamatan. ‘’Karena kegiatan kami itu Camat Merakurak sering mengganjar kami dengan piagam karena kepedulian terhadap lingkungan,’’ pungkasnya.(*/ds)
Editor : Hardiyati Budi AnggraeniSumber : Radar Tuban