RADARTUBAN – Rasa minder sempat menghampiri Kalingga Pandu Sadewa dan Thirza Devin Fairuz Dania Shofa saat melihat deretan peserta yang menjadi pesaing mereka di ajang Tubernova Award 2026.
Apalagi, kompetisi tersebut mempertemukan dua pelajar SMAN 1 Tuban itu dengan peserta dari kalangan mahasiswa, hingga sosok senior yang pernah menjadi juri dalam perlombaan serupa pada tahun sebelumnya.
Baca Juga: Berawal dari Limbah Siwalan, Siwa Board Karya Siswi SMAN 1 Tuban Sabet Juara 3 Tubernova 2026
Namun, alih-alih mundur karena merasa kalah pengalaman, keduanya memilih bertahan dan membuktikan bahwa ide sederhana juga bisa melahirkan inovasi yang bermanfaat.
“Cukup ragu di awal karena pesaingnya bukan hanya dari kalangan pelajar, tapi kami merasa tidak masalah dengan tantangan itu dan mencoba dulu,” ujar Kalingga kepada Jawa Pos Radar Tuban beberapa waktu lalu.
Berangkat dari Keresahan di Lingkungan Rumah
Ide menciptakan PAGAR tidak muncul dari ruang laboratorium yang penuh peralatan canggih.
Melainkan, gagasan itu justru berawal dari kehidupan sehari-hari Kalingga dan Devin yang tinggal di lingkungan pedesaan.
Di sekitar tempat tinggal mereka, sebagian besar rumah warga tidak memiliki pagar tinggi. Keamanan rumah pun masih mengandalkan kunci pintu konvensional.
Kondisi tersebut membuat keduanya berpikir tentang kemungkinan terjadinya pencurian.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Kedua remaja asal Tuwiri Wetan dan Gedongombo tersebut mengetahui adanya kejadian kriminalitas di lingkungan sekitar.
Bahkan, tetangga mereka pernah kehilangan ayam peliharaan akibat pencurian.
Peristiwa sederhana yang mungkin dianggap sepele bagi sebagian orang itu justru memantik pemikiran keduanya.
Pelajar kelas XII itu mulai membayangkan bagaimana teknologi bisa membantu warga mengantisipasi potensi pencurian, terutama ketika rumah sedang ditinggalkan dan dalam keadaan kosong.
“Kejadian tersebut yang menjadi latar belakang kami mewujudkan inovasi ini,” tutur Devin menimpali.
Dari keresahan itulah PAGAR mulai dirancang.
Kalingga dan Devin ingin menghadirkan perangkat yang mampu mendeteksi keberadaan makhluk hidup di sekitar rumah dan memberikan peringatan kepada pemiliknya.
Mereka memanfaatkan sensor passive infrared (PIR) untuk mendeteksi panas tubuh makhluk hidup yang melintas.
Sensor tersebut terhubung dengan buzzer sebagai alarm suara dan sistem pemberitahuan melalui aplikasi Telegram.
Dengan konsep tersebut, PAGAR diharapkan bisa menjadi perangkat tambahan untuk membantu meningkatkan keamanan rumah.
Bukan hanya sekadar proyek perlombaan, inovasi itu lahir dari persoalan yang mereka lihat dan rasakan sendiri.
Dua Kompetisi dengan Waktu Bersamaan
Di balik gagasan yang akhirnya mengantarkan mereka menjadi juara, ada proses pengerjaan yang jauh dari kata mudah.
Kalingga dan Devin harus berpacu dengan waktu karena tidak hanya mempersiapkan PAGAR untuk Tubernova Award, tetapi juga menyelesaikan persiapan kompetisi Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI).
Dalam waktu sekitar dua minggu, keduanya dituntut merampungkan makalah sekaligus perangkat keras PAGAR.
Waktu yang terbatas membuat mereka harus pandai membagi fokus. Bahkan, waktu istirahat pun rela dikorbankan agar seluruh persiapan benar-benar siap.
“Kami sempat pontang-panting saat itu. OPSI belum selesai, Tubernova juga ada. Jadi, kami jalani dua perlombaan sekaligus,” kenang keduanya diiringi tawa ringan.
Tantangan Bukan Hanya Soal Waktu
Kendala yang dialami kedua pemuda cerdas tersebut tak berhenti pada urusan waktu.
Saat merakit dan mengembangkan PAGAR, Kalingga dan Devin juga harus menghadapi persoalan teknis, terutama ketika melakukan kalibrasi perangkat lunak pada mikrokontroler.
Salah satu pekerjaan yang menyita perhatian adalah menyelaraskan jaringan perangkat dengan aplikasi Telegram milik pemilik rumah.
Keduanya harus memastikan sistem dapat mengirimkan perintah maupun notifikasi darurat secara cepat.
“Kami harus menyelaraskan jaringan dengan aplikasi Telegram milik pemilik rumah, tujuannya agar perintah atau pemberitahuan darurat dapat dikirim dengan cepat. Ini cukup memakan waktu juga walaupun tidak terlalu lama,” jelas Devin.
Sempat Merasa Tak Percaya Diri
Di tengah kesibukan tersebut, muncul tantangan lain yang tak kalah berat: menghadapi rasa minder.
Melihat peserta lain yang dinilai lebih berpengalaman sempat membuat keduanya merasa tidak cukup percaya diri.
Namun, keraguan itu tidak dibiarkan berlarut-larut.
Kedua pemuda itu saling memberikan semangat, sembari terus memantau perkembangan peserta lain dan memperbaiki inovasi yang mereka buat.
Dukungan guru pembimbing juga menjadi bagian penting dalam perjalanan mereka menyelesaikan PAGAR.
Perlahan, kerja keras yang mereka lakukan mulai menunjukkan hasil.
Perangkat yang awalnya lahir dari keresahan sederhana di lingkungan tempat tinggal itu akhirnya siap dipresentasikan di hadapan juri.
Perjuangan selama berminggu-minggu tersebut terbayar. Kalingga dan Devin berhasil membawa pulang gelar Juara 1 Terinovatif kategori Inotek Berbasis Website dan atau Mobile Apps.
Kemenangan itu sekaligus menjadi jawaban atas keraguan yang sempat mereka rasakan ketika harus bersaing dengan peserta yang lebih berpengalaman.
“Kami masih ingin mengembangkan dan menyempurnakan PAGAR agar tidak hanya menjadi karya yang dipamerkan dalam kompetisi, tetapi juga berpeluang dikomersialkan dan dimanfaatkan masyarakat,” pungkas Kalingga. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning MentariSumber : Radar Tuban