RADARTUBAN - Suara Bagus Angga Boedy Pradewa terdengar sedikit lelah di ujung telepon.
Beberapa saat sebelumnya, atletu soft tenis asal Tuban itu baru saja mendarat di Jakarta setelah menempuh perjalanan dari Jepang.
‘’Maaf, Mas, ini baru saja landing dari Jakarta,’’ begitu suara di seberang sambungan telepon ketika Jawa Pos Radar Tuban menghubungi Bagus Angga Boedy Pradewa pada Jumat (24/9) lalu.
Baca Juga: Geger! UEA Ancam Tarik Investasi Miliaran dari Inggris Gara-gara Kasus Manchester City
Meski tubuh belum sepenuhnya pulih dari perjalanan, Bagus tetap antusias bercerita. Sekitar 40 menit percakapan berlangsung.
Dari balik sambungan telepon itu, mengalir cerita tentang pengalaman pertamanya tampil di Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Seluruh pertandingan harus dilewati dengan tekanan yang tidak ringan. Pada akhirnya, dia membawa medali perunggu.
"Pertama saya cukup gugup juga, apakah mampu meraih medali atau tidak,’’ ujarnya memulai menceritakan pengalamannya.
Kegugupan itu bukan tanpa alasan. Asian Games 2026 merupakan debut pertama Bagus di ajang olahraga terbesar di Asia.
Tantangannya pun langsung berat. Pada fase penyisihan, Indonesia tergabung dalam satu grup dengan Korea dan Nepal.
Laga pertama menghadapi Nepal berjalan mulus. Indonesia menang 2-0. Pertandingan berikutnya berbeda. Korea menjadi lawan yang lebih berat. Indonesia harus mengakui keunggulan tim tersebut dengan skor 2-1.
Namun, kekalahan itu belum menutup jalan Indonesia. Tim soft tenis Indonesia tetap melaju ke babak berikutnya.
Di perempat final, Indonesia bertemu India. Kali ini Bagus dan rekan-rekannya tampil meyakinkan. Kemenangan diraih dan tiket semifinal pun berada di tangan. Jepang pun kemudian menunggu.
Pertandingan melawan tuan rumah menjadi ujian tersendiri. Bukan hanya karena kualitas permainan Jepang, tetapi juga karena tribun dipenuhi pendukung tuan rumah.
Suasana pertandingan terasa berbeda. Sorakan penonton membuat Bagus dan rekan-rekannya harus bekerja lebih keras menjaga konsentrasi.
Baca Juga: Tujuh Atlet Disabilitas Tuban Bawa Pulang 13 Medali dari Keparprov Jatim 2026
Indonesia akhirnya kalah 0-2. ‘’Kami pun harus puas dengan posisi tiga bersama Korea. Korea di perempat final bertemu Taiwan dan kalah,’’ jelasnya.
Langkah Indonesia memang terhenti sebelum partai final. Namun, bagi Bagus, hasil itu sudah lebih dari cukup untuk disyukuri.
Debutnya di Asian Games berakhir dengan medali perunggu. Bagi pemuda kelahiran Kecamatan Tuban itu, medali tersebut sekaligus menjadi penanda perjalanan yang terbilang singkat di dunia soft tenis.
Bagus bahkan masih mengingat masa ketika dirinya belum mengenal olahraga tersebut secara serius.
Pada 2023, dia masih berstatus sebagai atlet tenis. Olahraga itu telah ditekuninya sejak bersekolah di SMKN 1 Tuban.
Berbagai kejuaraan diikutinya. Salah satu yang paling membekas terjadi pada 2018. Saat itu, Bagus berhasil menjuarai kejuaraan nasional di Tegal.
Penampilannya menarik perhatian tim tenis Kabupaten Ciamis. Bagus kemudian mendapat tawaran memperkuat tim tersebut pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Barat. Kesempatan itu diterimanya.
‘’Setelah itu saya menetap di Ciamis selama setahun. Selanjutnya pindah ke Bandung karena saya bekerja di Bulog,’’ bebernya.
Di Bandung, tenis masih menjadi jalan yang dipilihnya. Sampai kemudian kesempatan yang tidak direncanakan datang menjelang PON Aceh-Sumut 2024.
Bagus sebenarnya ingin memperkuat Jawa Barat di cabang olahraga tenis. Namun, namanya belum masuk dalam skuad yang lolos.
Di tengah situasi tersebut, seorang teman menawarkan kesempatan yang berbeda, bergabung dengan tim soft tenis Jakarta.
Olahraga yang sebelumnya belum terlalu lama dikenalnya itu pun dicoba. Hasilnya justru membuka jalan baru.
Pada PON Aceh 2024, Bagus berhasil menyumbangkan medali perunggu. ‘’Di PON Aceh 2024 alhamdulillah bisa menyumbangkan medali perunggu,’’ ujarnya.
Medali itu menjadi semacam pintu masuk. Setelahnya, Bagus mulai serius menekuni soft tenis. Kejuaraan demi kejuaraan internasional mulai dijalani.
Hingga akhir 2025, ketika seleksi pusat pelatihan nasional (pelatnas) dibuka untuk persiapan Asian Games, Bagus kembali mengambil kesempatan. Dia mengikuti seleksi bersama atlet-atlet lainnya.
Dari proses tersebut, namanya akhirnya masuk dalam tim nasional soft tenis Indonesia. ‘’Dari lima atlet itu saya terpilih dan menjadi pemain singgel,’’ imbuhnya.
Enam bulan berikutnya dihabiskan untuk persiapan menuju Asian Games. Latihan, pertandingan, dan persiapan fisik menjadi bagian dari kesehariannya.
Di tengah persiapan itu, dukungan dari tempatnya bekerja menjadi salah satu hal yang membuat Bagus bisa fokus.
Dia mendapat cuti penuh untuk menjalani persiapan. ‘’Dan saya diberi cuti penuh hingga Oktober untuk persiapan Asian Games,’’ ujarnya. (fud/ds)
Editor : Yudha Satria AditamaSumber : Radar Tuban