RADARTUBAN - Pandangan miring terhadap pegiat skateboard sudah menjadi bagian dari keseharian komunitas skateboard di Tuban. Namun, mereka memilih tak ambil pusing. Mereka tetap datang untuk berlatih, meski harus bersabar menunggu skatepark steril dari anak-anak yang bermain.
Suara roda skateboard beradu dengan lantai terdengar dari skatepark di kawasan GOR Rangga Jaya Anoraga pada suatu Sabtu pagi. Satu per satu skater bergantian menunjukkan kemampuan. Mereka meluncur, mengangkat papan, lalu melakukan lompatan dengan beragam trik. Aksi itu sesekali menarik perhatian pengunjung Gelanggang Olahraga (GOR) Rangga Jaya Anoraga Tuban yang melintas.
Di balik aksi yang tampak atraktif tersebut, ada cerita tentang kesabaran. Belasan anak muda yang datang untuk berlatih itu tidak selalu bisa langsung menggunakan arena. Ketika tiba sekitar pukul 16.00, skatepark kerap masih dipenuhi anak-anak kecil yang bermain.
Situasi tersebut bukan hal baru bagi para skater. Mereka juga kerap berbagi ruang dengan anak-anak. Skatepark yang semestinya menjadi tempat berlatih skateboard terkadang berubah menjadi arena bermain.
Para skater sebenarnya merasa memiliki hak untuk menggunakan arena. Namun, mereka memilih mengalah daripada memaksakan diri bermain ketika anak-anak masih berseliweran. Risiko kecelakaan menjadi pertimbangan.
‘’Sudah biasa, saat mau main ada anak-anak kecil yang seliweran. Tapi kami memilih mengalah,’’ ujar Ketua Station Skateboard (STSK8) Bastrio kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Menurut dia, para skater memahami bahwa keberadaan skatepark diperuntukkan bagi aktivitas skateboard. Namun, mereka tidak ingin menang sendiri dengan tetap meluncur ketika kondisi arena belum aman. Risiko menabrak hingga mencederai anak-anak menjadi pertimbangan utama.
Di sisi lain, Bastrio menyadari komunitas skateboard masih kerap mendapat pandangan kurang baik dari sebagian masyarakat. Penampilan sejumlah anggota yang bertato dan bertindik terkadang menjadi alasan munculnya penilaian negatif.
Karena itu, mereka berusaha tidak memperburuk pandangan tersebut. Kedatangan ke skatepark bukan untuk membuat keributan. Mereka datang untuk berlatih, mengasah kemampuan, sekaligus menyalurkan hobi.
Bagi Bastrio, keberadaan komunitas juga berawal dari kebutuhan ruang bagi anak muda yang ingin belajar skateboard. Komunitas yang dipimpinnya dibentuk sekitar 2007. Kala itu, fasilitas latihan yang representatif belum tersedia. Mereka berlatih di jalanan dan berpindah-pindah tempat.
Perjuangan tersebut perlahan mendapat perhatian pemerintah daerah. Fasilitas latihan kemudian dibangun di salah satu sudut kawasan GOR. Arena itu selanjutnya dibangun ulang hingga menjadi skatepark seperti sekarang.
Meski lebih layak, fasilitas yang tersedia belum sepenuhnya ideal. Salah satunya penerangan. Saat malam, skatepark belum memiliki lampu yang memadai.
Komunitas skateboard bahkan sempat disalahkan ketika ditemukan lampu rusak pada masa awal Alun-Alun Tuban selesai dibangun. Bastrio tidak tinggal diam.
‘’Saat itu saya datang langsung ke alun-alun untuk memastikan sendiri. Saya sampaikan, tidak mungkin kerusakan itu disebabkan anak-anak skateboard,’’ kenangnya.
Bagi pria yang tinggal di Kelurahan Doromukti, Kecamatan Tuban tersebut, berbagai dinamika itu bukan alasan untuk berhenti. Justru, setelah sekian lama, ia melihat semakin banyak anak muda yang tertarik menekuni skateboard.
Baca Juga: Kacamata Berbahan Ampas Kopi? Produk Terbaru Recgla Setelah Membuatnya dari Papan skateboard
Bertambahnya peminat menjadi tanda bahwa perjuangan komunitas selama ini mulai membuahkan hasil. Keberadaan skatepark membuat mereka memiliki tempat yang lebih layak untuk menyalurkan hobi. ‘’Banyaknya regenerasi ini saya senang,’’ bebernya.
Namun, skateboard bukan hobi yang murah. Harga papan dan perlengkapan pendukungnya bisa menguras kantong. Papan skateboard juga harus terus bergesekan dengan lantai dan menerima benturan setiap kali skater mencoba trik.
Ketika mengalami kerusakan, perlengkapan tersebut tidak selalu bisa diperbaiki. Tidak jarang, skater harus membeli papan baru agar bisa kembali berlatih.
Meski begitu, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat mereka. Perkembangan perlengkapan skateboard justru membuat para pegiat kini memiliki lebih banyak pilihan.
‘’Tapi kalau sekarang saat papan atau komponen ada yang rusak sudah bisa menganti dengan mudah, karena sekarang sudah banyak merk dan harga yang bervariasi,’’ pungkasnya. (fud/ds)
Editor : Hardiyati Budi AnggraeniSumber : Radar Tuban