Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Aisya Salsabilla, Lulusan SMAN 4 Tuban yang Diterima di Nanjing Technology University dan Trent University di Kanada

Shafa Dina Hayuning Mentari • Selasa, 15 Juli 2025 | 23:57 WIB

 

Aisya tampil cantik dalam balutan kebaya saat momen kelulusan SMAN 4 Tuban.
Aisya tampil cantik dalam balutan kebaya saat momen kelulusan SMAN 4 Tuban.

RADARTUBAN - Kendati tidak pernah terbayangkan bakal mendapat beasiswa kuliah di luar negeri, namun mimpi kuliah di kampus bergengsi sudah ditanam Aisya Salsabilla sedari masuk SMA.

Sejak saat itu, dia terus belajar untuk mencapai nilai akademik semaksimal mungkin, hingga akhirnya meraih beasiswa di dua kampus luar negeri: Nanjing Technology University dan Trent University Kanada.

Rasa bangga dan syukur itu terasa jelas dari nada suara Sasya—sapaan akrab Aisya Salsabilla—ketika diwawancarai Jawa Pos Radar Tuban melalui sambungan telepon beberapa waktu lalu. Diterima di dua kampus luar negeri sekaligus tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

‘’Tepatnya sejak kelas 3 SMA saya sudah mulai apply ke berbagai kampus luar negeri, tapi jujur tidak pernah menaruh harapan besar untuk bisa langsung diterima, karena saya tahu ketatnya pendaftaran di kampus-kampus luar,’’ ujar alumni SMAN 4 Tuban itu.

Untuk meraih beasiswa di dua kampus bergengsi luar negeri tersebut, Sasya tidak hanya bersaing dengan ribuan calon mahasiswa dari Indonesia, tapi juga dari berbagai negara lain, seperti Malaysia, Filipina, Afrika, Nepal, India, Bangladesh, hingga Pakistan.

Tak tanggung-tanggung, dari total 30 ribu lebih peserta, hanya sekitar 38 persen atau 11.400 pelajar yang diterima. Dan salah satu yang beruntung itu adalah dirinya.

Syarat awal pendaftaran pun begitu berat, dari nilai rapor minimal 85, mengantongi sertifikat tes International English Language Testing System (IELTS), mengirimkan esai untuk seleksi, dan masih banyak persyaratan lain.

‘’Semua persyaratannya saya siapkan sejak jauh hari sebelum pendaftaran dibuka. Untuk persiapan IELTS juga bersiap sejak kelas 10 SMA,” katanya.

Bahkan, disaat teman-teman sebayanya menikmati waktu berlibur dengan jalan-jalan dan bersenang-senang, remaja 18 tahun ini jurstru rela menghabiskan waktu liburan sekolahnya untuk mengambil les bahasa Inggris di Kediri hingga libur sekolah usai.

Dia mengaku, capaian IELTS menjadi tantangan terbesar selama prosesnya memperjuangkan impian untuk dapat menempuh pendidikan di negeri orang.

Dengan capaian nilai 7.0 yang termasuk mengesankan, usaha Sasya selama dua tahun persiapan seakan tidak sia-sia.

Meski telah diterima di Cina dan Kanada, namun sebelumnya Sasya telah mengalami penolakan dari beasiswa dan kampus luar negeri impiannya, seperti Stipendium Hungaricum Scholarship di Hungaria dan Kyoto University of Advanced Science di Jepang.

Bukan hanya bahasa Inggris, calon mahasiswa diaspora asal Kelurahan Perbon, Kecamatan Tuban ini juga mempelajari bahasa Mandarin.

Sebab, bahasa dengan huruf hanzi ini diperlukan dalam kesehariannya di Cina nanti. Selain itu, diperlukan juga sebagai syarat kelulusan sarjana yang harus mengantongi sertifikat HSK level empat.

‘’Yang paling menginspirasi jelas kedua orang tua, bukan karena hanya melihat konten pelajar di luar negeri saja. Tontonan Study Abroad Lifestyle juga menjadi dorongan agar saya selalu mengingat tujuan dan cita-cita yang ingin saya raih,” katanya.

Selama dua tahun persiapannya, Sasya tidak hanya mempersiapkan nilai dan bahasa saja. Gadis ini turut aktif dalam berbagai kegiatan perlombaan, volunteer, bahkan hingga organisasi untuk semakin memperbagus curriculum vitae miliknya yang diperlukan sebagai syarat pendaftaran.

‘’Dengan diterimanya saya di berbagai universitas, meski ada yang ditolak juga, itu membuat saya merasa bersyukur atas segala dorongan internal maupun eksternal. Selain itu saya juga merasa bangga pada diri sendiri karena semua kerja keras saya akhirnya terbayarkan,’’ pungkasnya.

Kendati sudah diterima di Nanjing Technology University dan Trent University Kanada.

Namun, Sasya belum menentukan pilihan. Bahkan, dia juga masih berpotensi diterima di beberapa kampus luar negeri lainnya. (*/tok)

 

Editor : Yudha Satria Aditama
#jepang #kediri #Nanjing Technology University #Trent University Kanada #SMAN 4 Tuban #Kyoto University