Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Tak Terpengaruh El Nino, Hasil Panen Jagung Meningkat di Tuban

Aimatul Fauziyah • Jumat, 6 Oktober 2023 | 15:05 WIB
Photo
Photo

RADARTUBAN – Fenomena El Nino yang memicu kekeringan ekstrem justru menjadi berkah bagi sebagian petani. Salah satunya petani jagung.

Realisasi produksi tanaman dengan nama latin zeamays ini justru mengalami  peningkatan.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Tuban Eko Arif Yulianto mengatakan, dibanding tahun lalu pada triwulan yang sama, realisasi tanam tahun ini mengalami peningkatan sekitar 1.599 hektare (ha).

‘’Angka pastinya, hingga triwulan ketiga 2022 lalu, luas lahan komoditas jagung sekitar 137.128 hektare, sedangkan 2023 ini mencapai 138.727 hektare,’’ katanya kepada Jawa Radar Tuban, Kamis (5/10).

Eko—sapaan akrabnya—menuturkan, kemarau tahun ini memang lebih ekstrem dibanding tahun lalu. Namun, kondisi tersebut tidak memengaruhi produksi jagung. Alasannya, tanaman jagung tidak membutuhkan banyak air.

‘’Secara umum, dampak El Nino memang berpengaruh, tapi tidak pada tanaman jagung. Banyak petani yang malah menanam jagung, sehingga produksi meningkat dibanding tahun lalu,’’ ujarnya.

Lebih lanjut, mantan Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) itu menyadari bahwa sektor pertanian juga terdampak fenomena El Nino yang kini sedang melanda Indonesia.

Di antara dampak itu, yakni kekeringan, gangguan musim tanam, potensi kemunculan penyakit, hama, dan penurunan kualitas tanaman.

Namun, hal itu tidak dialami oleh petani jagung.

‘’Dampaknya terhadap tanaman padi. Tahun lalu, luas lahan tanaman padi pada triwulan tiga mencapai 107.310 hektare, sedangkan tahun ini hanya sekitar 105.312 hektare, atau berkurang 1.998 hektare,’’ terang lulusan Sekolah Tinggi Pemerintahan dalam Negeri (STPDN) itu.

Eko menjelaskan, fenomena kekeringan yang terjadi saat ini bisa menghambat pertumbuhan tanaman serta hasil panen.

Maka dari itu, dia menyarankan perlu memperhatikan perubahan cuaca agar dapat menyesuaikan jadwal tanam mereka.

‘’Cuaca panas saat ini bisa menghambat proses pertanian, sehingga petani mencari alternatif tanaman lain untuk mendapat hasil panen yang memuaskan,’’ terang pria yang juga pernah menjabat Kabag Kesra Setda Tuban itu.

Terpisah, Bakri seorang petani mengakui bahwa produksi jagung tahun ini mengalami peningkatan.

Dalam proses tanamnya, dia mengoptimalkan musim kemarau ini dengan metode tumpang sari. Menurutnya, metode ini sangat membantu daerah yang kekurangan air karena dapat panen lebih dari satu kali dari satu lahan.

‘’Kalau tanaman jagung yang pertama sudah berumur, bawahnya di lahan yang sama kami tanam jagung lagi atau tumbuhan lain,’’ jelas dia.

Selain itu, lanjut dia, cuaca panas seperti sekarang ini juga mempercepat proses penjemuran.

‘’Sehari dijemur sudah kering, sehingga bisa cepat dijual,’’ tandasnya. (zia/yud/tok)

Editor : Amin Fauzie
#Tuban #kekeringan #EL Nino #jagung