RADARTUBAN – Meski Tuban tidak dipetakan sebagai daerah rawan, pesta demokrasi harus tetap diwaspadai. Gangguan kecil bisa berpotensi menjadi kejadian luar biasa jika tidak ditangani sejak dini dan dengan tepat.
Pesan itulah yang disampaikan Wakapolres Tuban Kompol Palma Fitria Fahlevi dalam gladi kotor simulasi sispamkota (sistem pengamanan kota) bersama petugas gabungan, Senin (9/10).
Orang nomor dua di Polres Tuban itu mengatakan, jangan pernah meremehkan potensi gangguan sekecil apa pun saat pesta demokrasi berlangsung.
Saat proses pemilihan calon legislatif, calon kepala daerah, maupun calon presiden, seluruh petugas harus ekstra waspada.
‘’Persoalan besar bisa dipicu dari hal-hal kecil yang bertumpuk-tumpuk, jadi jangan pernah underestimate (meremehkan) persoalan apa pun,’’ kata dia.
Dalam gladi kotor simulasi sispamkota, kata Palma—sapaan akrabnya, petugas dilatih cara menangani berbagai persoalan selama pesta demokrasi.
Mulai dari tahapan kampanye tertutup, kampanye terbuka, hingga saat pemilihan. Petugas gabungan dilatih untuk menangani berbagai gangguan seperti perusakan alat peraga kampanye hingga gesekan antarpendukung.
‘’Jika ada ancaman perusuh, kami akan mengambil tindakan kepolisian,’’ tegas dia.
Mantan Kapolsek Lakarsantri, Surabaya ini menjelaskan, selama proses pengamanan pesta demokrasi, pihaknya meminta bantuan bawah kendali operasi (BKO) Polda Jatim.
Tujuannya, agar segala proses pemilihan umum bisa berjalan kondusif tanpa memicu tindakan anarki.
‘’Kami libatkan petugas gabungan TNI, Polri, Satpol PP, DLHP, dan Linmas untuk kerja sama dan saling membantu pengamanan selama proses pemilu,’’ tandasnya. (yud/tok)
Editor : Amin Fauzie