RADARTUBAN – Musim kemarau yang berkepanjangan dengan terik yang sangat menyengat justru membawa berkah bagi petani garam di Tuban.
Seperti yang dirasakan petani garam di Desa Leran Wetan, Kecamatan Palang. Cuaca panas ekstrem yang terjadi sejak awal musim kemarau sekitar April-Mei tersebut mendongkrak hasil komoditas berasa asin tersebut.
Budianto, salah satu petani garam di Leran Wetan mengungkapkan, melimpahnya produksi garam berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan.
‘’Cuaca panas membuat penjemuran garam lebih cepat dari biasanya. Sekarang, seminggu sekali petani garam panen,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Kalau panas selama puncak musim kemarau, Juni hingga November bertahan seperti sekarang, dia memprediksi per hektare lahan garam bisa menghasilkan minimal 100 ton garam. Termasuk lahan garamnya yang mendapat keuntungan sekitar Rp 6 juta per bulan.
Melimpahnya produksi garam, lanjut dia, berpengaruh terhadap harga, sesuai hukum ekonomi. Sekarang, per kilogram (kg) garam hanya dihargai Rp 1.000 – 1.500.
‘’Meski begitu sudah untung banyak bagi kami,” tutur anggota Koperasi Ronggolawe Makmur itu.
Budi menyebut keuntungan yang didapat para pertani garam juga bergantung dengan cara panennya.
Jika pemanenan dilakukan mandiri, maka keuntungan yang didapat lebih besar karena tidak perlu membayar upah para pekerja.(an/ds)
Editor : Amin Fauzie