RADARTUBAN – Dampak El Nino yang memicu kemarau panjang diklaim tidak begitu memengaruhi produksi pangan di Kabupaten Tuban.
Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP2P) Tuban optimistis hasil panen di Bumi Ronggolawe tidak banyak mengalami penyusutan dibanding tahun lalu.
Kepala DKP2P Tuban Eko Julianto mengemukakan, produksi padi di Tuban pada 2022 lalu mencapai lebih kurang 1,2 juta ton.
Menempati peringkat lima sebagai daerah penghasil padi se-Jawa Timur.
Sedangkan 2023 ini, Eko—sapaan akrabnya—belum bisa memastikan. Meski demikian, dia optimistis produksi pangan tahun ini tidak jauh beda dengan tahun sebelumnya.
‘’Kemungkinan masih sama dengan tahun lalu,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Diakui Eko, El Nino yang melanda banyak wilayah ini memang berdampak terhadap pertanian. Namun demikian, terang dia, fenomena pemanasan suhu laut ini tidak berdampak serius terhadap hasil produksi pangan di Tuban.
‘’Kalau dibilang berdampak, ya pasti berdampak. Tapi untuk hasil produksi pangan di Tuban, Insya Allah tidak banyak berkurang,’’ ujarnya.
Mantan Camat Senori itu menuturkan, sebelum kemarau berkepanjangan seperti sekarang ini, DKP2P Tuban sudah melakukan beberapa upaya mitigasi pencegahan dengan mengoptimalkan sumur pompa dan saluran irigasi untuk petani.
‘’Upaya mitigasi ini sudah kami lakukan dengan memperbanyak sumur resapan, melakukan sosialisasi hemat air, dan meningkatkan penyuluhan tentang pemanfaatan informasi iklim untuk daerah pertanian,’’ katanya.
Lebih lanjut, Eko memaparkan, penyuluhan tentang pemanfaatan informasi iklim sangat berguna untuk menentukan masa tanam petani.
Jika masa tanam dihitung dan disesuaikan dengan informasi iklim yang ada, petani akan mendapatkan hasil yang maksimal.
‘’Sehingga produksi pangan tetap terjaga,’’ tandasnya. (zia/tok)
Editor : Amin Fauzie