RADARTUBAN- Kasus kekerasan pada perempuan dan anak masih menjadi pekerjaan rumah Pemkab Tuban. Hingga Oktober 2023 ini, total 75 laporan kekerasan terhadap anak dan perempuan diterima Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, serta Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinsos P3APMD) Tuban.
‘’Rinciannya, 39 kasus pada anak dan 36 kasus terhadap perempuan. Dan jumlah ini masih potensi bertambah,’’ kata Kepala Dinsos P3APMD Tuban Sugeng Purnomo melalui Kabid P3A, Muharti kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Disampaikan dia, meski menurun dibanding 2022 yang saat itu tercatat 85 laporan. Total sementara 75 laporan yang diterima Dinsos P3APMD Tuban pada tahun ini terbilang masih tinggi.
Terlebih, tahun anggaran 2023 masih tersisa dua bulan. Sehingga, sangat mungkin bertambah.
‘’Apalagi, kasus kekerasan di 2022 juga belum semua terselesaikan,’’ paparnya.
Muharti mengatakan, kini semakin banyak masyarakat yang berani melapor kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Klaimnya, itu tak lepas dari upaya pemkab yang selama ini gencar sosialisasi agar masyarakat tak lagi takut melaporkan tindak penganiayaan yang mereka alami.
‘’Salah satu kendala kasus yang belum terselesaikan, itu karena proses hukum berhenti,’’ katanya.
Pejabat wanita asal Kelurahan Kembangbilo, Kecamatan Tuban itu membei contoh, ada salah satu kasus revenge porn sepasang remaja yang terjadi di Jatirogo 2022 silam.
Kasus ancaman dari sang pria yang akan menyebarkan video bugil pacarnya itu hingga kini belum menemukan solusi.
‘’Selain kendala dalam penangkapan, ada juga ancaman dari pelaku, jadi korban takut,’’ kata dia.
Muharti menjelaskan kasus yang terdata itu merupakan laporan yang masuk ke institusinya. Belum dari kasus yang tidak dilaporkan hampir dipastikan jumlahnya lebih banyak. Dan itu yang di khawatirkan— fenomena gunung es.
‘’Bagi yang melapor, kami memberikan bantuan pendampingan korban untuk konseling psikiater dan psikolog untuk penguatan mental,’’ jelasnya.
Muharti menambahkan, kasus kekerasan pada anak masih mendominasi karena lebih mudah terdeteksi. Selain itu, juga banyak yang berani melaporkan dibanding kasus terhadap perempuan. (fit/yud/tok)
Editor : Muhammad Azlan Syah