Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Kasus Bunuh Diri Siswa SMK yang Diduga Terlilit Pinjol, Bisa Picu yang Lain

Piscella Aisa Kusuma • Jumat, 27 Oktober 2023 | 18:15 WIB
Photo
Photo

RADARTUBAN–Kasus bunuh diri salah satu siswa SMK di Tuban beberapa hari lalu, yang diduga depresi akibat tekanan debt collector pinjaman online (pinjol) memantik reaksi psikolog.

Pasalnya, kasus bunuh diri bisa memicu prilaku copycat suicide atau peniruan tindakan yang sama ketika menghadapi masalah.

‘’Kasus ini menjadi perhatian kita bersama. Setiap individu perlu membentengi dirinya dengan menjaga kesehatan mental dengan baik,’’ kata Indartik, salah satu psikolog di Tuban.

Disampaikan Iin—sapaan akrabnya, copycat suicide adalah perilaku seseorang mengakhiri hidup yang sifatnya meniru kejadian bunuh diri sebelumnya.

Copycat suicide biasanya dilakukan setelah seseorang melihat kabar dan mendengar orang lain melakukan bunuh diri.

Dia menambahkan, suatu kasus bunuh diri dapat menggiring persepsi orang lainnya mengenai bunuh diri.

Sehingga, seorang individu yang memang telah memiliki permasalahan atau gangguan mental dapat terinspirasi untuk melakukan hal yang sama.

‘’Ini sangat bahaya jika tidak mendapat edukasi yang tepat,’’ tuturnya, namun tak semua bunuh diri dengan rentang waktu yang berdekatan bisa disebut dengan copycat suicide, ‘’bisa juga hanya kebetulan dengan jarak waktu yang tidak jauh dan kondisinya mirip,’’ tambahnya.

Lulusan pascasarjana Psikologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu menyampaikan, dalam dunia psikologi, perilaku bunuh diri tidak pernah terjadi begitu saja.

Hal itu pasti dilatarbelakangi oleh permasalahan atau gangguan mental tertentu. Seperti misalnya masalah psikososial, yakni pekerjaan atau masalah dalam rumah tangga.

‘’Selain itu, bisa juga karena kekerasan, bullying, atau lain sebagainya,’’ jelasnya.

Lebih lanjut, Iin menjelaskan bahwa aksi bunuh diri juga bisa disebabkan karena gangguan mental yang tidak tertangani dengan tepat.

Contohnya, seperti gangguan bipolar, depresi, PTSD (posttraumatic stress disorder) atau gangguan stres pascatrauma.

Tak hanya itu, gangguan kecemasan dan gangguan kepribadian ambang juga bisa menjadi penyebab seseorang melakukan tindakan bunuh diri.

Bahkan, terang dia, orientasi seksual yang berbeda dan penyakit yang tak kunjung sembuh pun bisa memicu seseorang mengakhiri hidupnya.

‘’Jadi, banyak hal yang memengaruhi,’’ tandasnya.

Melihat bahaya permasalahan kesehatan mental, psikolog asal Kecamatan Kerek itu mengimbau bagi setiap individu untuk menjaga kesehatan mentalnya dengan beberapa cara.

Dua di antaranya, menjaga pola hidup sehat dan menerapkan skala prioritas saat menghadapi suatu masalah.

‘’Jika lelah, istirahatlah sejenak. Setelah itu, bisa menyelesaikan masalah secara pelan-pelan,’’ tuturnya.

Iin berpesan, setiap orang perlu untuk mencintai dan merawat diri agar kasus bunuh diri tidak menjadi trigger (pemicu) untuk melakukan hal serupa.

Karena itu, penting untuk mengenali kekurangan dan kelebihan diri sendiri agar mengetahui apa yang mampu dilakukan dan tidak.

‘’Tidak kalah penting, jangan pernah membandingkan diri sendiri dengan orang lain, dan selalu jaga aspek spiritualitas,’’ pesannya. (sel/tok)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#copycat suicide #Tuban #smk #psikolog #bunuh diri #kasus