Hobi yang digeluti Lilik Retnowulan, guru SMKN 1 Tuban terbilang langka di lakukan perempuan. Terlebih, bagi pendidik. Apa itu? menjelajah hutan dengan motor trail. Membayangkan menaiki motor trail di alam bebas ter gambar sang pengendara memacu adrenalin menyusuri jalan ekstrem yang terjal, menanjak, curam, hingga kondisi jalan tak lazim dilalui seperti berlumpur dan berpasir. Tentu dibutuhkan skill untuk berkendara dan tentu saja berisiko tinggi. Takutkah pendidik berjilbab yang berpenampilan feminin di sekolah tersebut? ‘’Kalau takut, tentu saya tidak menjalaninya hingga puluhan tahun,’’ ujar perempuan 48 tahun itu ketika diwawancarai Jawa Pos Radar Tuban.
SEJAK duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA), Lilik sapaan akrabnya, sudah suka berpetualang di alam bebas dengan mengendarai motor trail.
Meski sempat vakum karena kesibukan kuliah, dia mengaku tak bisa meninggalkan hobinya begitu saja.
‘’Waktu kuliah saya sempat berhenti karena sibuk. Setelah lulus, saya lanjutkan kembali,”
tuturnya.
Mantan dekan Fakultas Teknik USB (Universitas Sunan Bonang) Tuban itu mengaku tidak hanya pernah menaklukkan jalan ekstrem di kawasan hutan dan pegunungan kapur di Tuban.
Sekali waktu, dia dan rombongannya, termasuk dua anaknya ke Jawa Tengah. Sejumlah daerah dengan medan ekstrem yang pernah dijelajahi, Alas Tawon, Tanjakan Ronggolawe, Prataan, hingga Gunung Panggung.
‘’Track yang sering saya tempuh mulai Desa Semanding, Bektiharjo, sampai Puncak Ngandong,” ungkapnya.
Selama menjalani hobi trail adventure bersama keluarganya, alumnus Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS) itu mengaku beberapa kali tersesat. Bahkan, nyaris tersesat setelah tak menemukan jalan keluar karena rute yang dipilih ternyata buntu.
‘’Kita pernah kesasar cukup lama sampai petang. Alhamdulillah bisa menemukan jalan yang ternyata tembus Desa Bektiharjo (wilayah Kecamatan Semanding, Red),” kenangnya.
Tak hanya tersesat. Perempuan yang tinggal di Kelurahan Karang, Kecamatan Semanding itu juga mengaku memiliki pengalaman yang sulit dilupakan.
‘’Waktu itu saat melewati rintangan ban, kaki saya ter sangkut lubang ban, sehingga terjatuh dan kelingking kiri cedera serius,” ujar waka humas SMKN 1 Tuban itu.
Meski sempat cedera dan beberapa kali tersesat, Lilik tak kapok dan meninggalkan hobinya yang penuh tantangan tersebut. Karena telanjur keranjingan dengan hobinya tersebut, setiap memiliki waktu longgar, dia selalu menyempatkan menjelajah dengan trail kesayangannya.
Rutinitas tersebut dijalaninya bersama keluarga yang memiliki hobi sama. ‘’Sekarang, saya mengurangi kegiatan ekstrem, lebih aktif mengikuti bakti sosial yang diadakan komunitas trail,” ujarnya.
Pendidik yang juga kepala Badan Administrasi Urusan Kepegawaian (BAUK) USB Tuban itu mengatakan, hobi ekstrem boleh saja disalurkan. Hanya saja tetap harus memperhatikan dan menyesuaikan kondisi fisik.
Bagi Lilik, menjalankan hobi trail adventure bersama keluarga nya adalah salah satu refreshing dari padatnya rutinitas di sekolah dan kampus.
‘’Tujuan hobi itu membuat perasaan menjadi senang,’’ ujar lulusan SMAN 2 Tuban itu. (fit/yud)
Editor : Muhammad Azlan Syah