RADARTUBAN-Jumlah penderita human immunodeficiency virus/acquired immune deficiency syndrome (HIV/AIDS) di Tuban masih sangat tinggi.
Dari Januari hingga Oktober ini, Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Tuban mencatat, sebanyak 148 orang tedeteksi HIV. Dan mirisnya, dari data tersebut, sebagian penderita merupakan anak-anak.
Plt Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Tuban Esti Surahmi membenarkan terdeteksinya penderita HIV yang sebagian anak-anak tersebut. Namun, detail berapa jumlahnya, dia tidak menungkapkan.
‘’Para penderita mulai dari anak kecil hingga dewasa. Jadi tidak hanya orang dewasa saja,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Disampaikan Esti—sapaan akrabnya, penularan virus pada anak biasanya melalui transmisi vertikal, yakni melalui ibu yang telah terinveksi virus HIV.
‘’Penularan bisa terjadi selama kehamilan, persalinan, dan ketika menyusui,’’ jelasnya. Lebih lanjut, Esti menjelaskan, HIV adalah penyakit seumur hidup.
Virus yang belum ditemukan obatnya ini menetap di dalam tubuh penderita seumur hidupnya.
Meski belum ada metode pengobatan untuk mengatasinya, tetapi ada obat yang bisa memperlambat perkembangan penyakit ini dan dapat meningkatkan usia harapan hidup penderita.
Menurutnya, penderita yang telah terdiagnosis HIV harus segera mendapatkan pengobatan berupa terapi antiretroviral (Arv).
‘’Arv bekerja mencegah virus HIV bertambah banyak, sehingga tidak menyerang sistem kekebalan tubuh,’’ jelasnya.
Terkait penularannya, terang pejabat berlatar belakang apoteker tersebut, juga bisa melalui perilaku berganti pasangan seksual dan penggunaan jarum suntik narkoba yang tidak steril.
‘’Penularan HIV terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh penderita, seperti darah, sperma, cairan vagina, cairan anus, serta asi,’’ paparnya.
Terkait sebagian orang yang masih menganggap bahwa HIV bisa menular melalui udara dan gigitan nyamuk, Esti menegaskan bahwa virus yang menyerang kekebalan tubuh ini tidak menular melalui udara, air, keringat, air mata, air liur, sentuhan fisik, dan gigitan nyamuk.
Oleh sebab itu, Esti mengharap kepada masyarakat agar tidak perlu melanggengkan stigma negatif masyarakat terhadap penderita HIV.
Ditegaskan dia, sangat penting memiliki wawasan tentang HIV agar tidak sembarangan memberikan stigma bahwa orang yang menderita HIV mudah menular.
Sebaiknya, imbau Esti, masyarakat tetap memberikan dukungan pada teman atau keluarga yang terkena virus ini.
‘’Penderita HIV tidak seharusnya dikucilkan dan dihakimi atas tindakan yang pernah dilakukan dulu. Dan tidak semua penderita HIV itu karena prilaku yang buruk,’’ ujarnya.
Masih dikatakan Esti, pihaknya terus berupaya menekan angka kasus HIV dengan melakukan skrining dini pada kelompok berisiko, seperti wanita pekerja seks, pelaku homoseksual, waria, dan pengguna narkoba via jarum suntik.
‘’Skrining juga dilakukan kepada kelompok rentan seperti ibu hamil dan juga masyarakat, termasuk pelajar SMP dan SMA. Antisipasi dini terus kami lakukan,’’ tandasnya. (zia/tok)
Editor : Muhammad Azlan Syah