Bermula dari belajar sejarah Islam, Chryssantania Maqfirra Erwanti terhubung dengan warga negara asing (WNA). Dari pertemanan tersebut, dia kemudian mendirikan Speak Bahasa, lembaga kursus bagi warga asing yang ingin belajar bahasa Indonesia.
MEMPELAJARI sejarah Islam tidak hanya menuntun perempuan yang akrab disapa Tania itu mengenal dengan tokohtokoh berpe ngaruh dalam perkem ba ngan Islam.
Salah satunya Muhammad Al Fatih atau Sultan Mehmed II. Tokoh yang diidolakan tersebut dikenal sebagai penakluk Konstantinopel.
Sosoknya yang memiliki sifat berani, gigih, Chryssantania Maqfirra Erwanti, CEO Speak Bahasa Belajar Sejarah Islam Menuntunnya Berkenalan dengan Warga Asing dan cerdas tersebut berhasil mendorong rasa penasaran Tania untuk belajar lebih dalam tentang kisah-kisah perjuangannya.
Tingginya keingintahuan perempuan 19 tahun itu tak hanya membuat dirinya belajar melalui buku dan literasi digital.
Tania juga belajar dari masyarakat asli negara asal Sultan Mehmed II tersebut, yakni Turki. Melalui media sosial OME TV, dirinya mengenal beberapa orang asal Turki yang kemudian menjadi teman belajarnya tentang sejarah Islam. Awalnya, dia kesulitan berkomunikasi karena kendala bahasa.
‘’Oleh karena itu, saya berpikir untuk belajar bahasa Turki saja, selagi ada orang asli Turki yang bisa membantu,” tutur dia ketika diwawancarai Jawa Pos Radar Tuban.
Tak hanya belajar bahasa Turki, kesempatan tersebut juga dimanfaatkan gadis kelahiran 20 November itu untuk mengajarkan bahasa Indonesia kepada teman asingnya tersebut.
Sekalian membalas jasa mereka yang mengajarkan bahasa Turki kepadanya. Hingga pada suatu waktu, Tania berinisiatif untuk membuat kursus bahasa Indonesia bagi penutur asing.
Rencana tersebut dikomunikasikan dengan beberapa temannya di Turki. Mereka pun mendukung. Setelah melalui proses yang singkat terbentuklah Speak Bahasa yang merupakan wadah belajar bagi WNA yang ingin mempelajari bahasa Indonesia.
‘’Saat ini kami baru menyediakan pembelajaran dalam bahasa Inggris dan bahasa Turki,” kata mahasiswi UPN Veteran Jawa Timur itu.
Tania mengungkapkan, tujuannya membuka lembaga kursus tersebut adalah untuk memberikan ruang bagi WNA agar bisa mempelajari bahasa Indonesia.
Tak hanya pembelajaran bahasa, Tania juga memberikan pelajaran budaya, nilai adat, dan norma yang berlaku di Indonesia.
‘’Hal itu untuk meminimalisir terjadinya culture shock bagi WNA yang akan datang ke Indonesia,” ujarnya.
Speak Bahasa yang didirikan perempuan asal Desa Prunggahan Wetan, Kecamatan Semanding pada 13 Februari 2023 itu mulanya hanya diikuti dua peserta belajar dari Turki. Selain mereka, Tania juga memiliki beberapa klien dari Belgium, India, dan Turki.
Dia menyampaikan, WNA yang ingin belajar bahasa Indonesia bertujuan menambah wawasan bahasa sekaligus ingin berkunjung ke Indonesia.
‘’Ada juga yang belajar untuk keperluan menetap di Indonesia dan urusan bisnis,” ujar lulusan SMAN 2 Tuban itu.
Pada awal merintis, kata Tania, Speak Bahasa hanya memiliki tiga pengajar. Bahasa Indonesia yang dia jarkan pun tak asal-asalan. Kurikulum yang diterapkan pun khusus bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA).
Apa kendalanya mengajar bahasa Indonesia bagi warga asing? Dia terang-terangan menyebut pemahaman pengucapan vokal.
Itu karena artikulasi huruf bahasa Indonesia berbeda dengan artikulasi dengan penurut asing. Melalui Speak Bahasa yang didirikan, mahasiswi program studi ilmu komunikasi itu berharap bisa memberikan ilmu yang bermanfaat bagi WNA.
Juga menjadi salah satu cara melestarikan kebudayaan Indonesia.
‘’Karena dengan cara seperti ini, semakin banyak WNA yang memiliki ketertarikan pada budaya Indonesia,” tuturnya.(sel/ds)
Editor : Muhammad Azlan Syah