RADARTUBAN – Nelangsa betul nasib suporter Persatu Tuban. Setelah aspirasinya tidak digubris oleh manajemen dan pemegang saham Persatu, kemarin (6/11) saat menggelar aksi unjuk rasa di gedung DPRD Tuban, juga tidak digubris oleh anggota dewan. Kondisi tersebut membuat amarah suporter kian mendidih.
Ketika perwakilan suporter masuk ke gedung legislatif tersebut, tak ada satu pun anggota DPRD di tempat. Informasi yang didapat, para anggota dewan sedang kunjungan kerja ke Jogjakarta. Mereka hanya ditemui Humas DPRD Tuban Ponco Sumarsono. Para suporter hanya dijanjikan bisa bertemu Ketua DPRD Miyadi dan anggota DPRD yang lain, Rabu (8/11) besok.
Lebih kurang tiga ratus suporter mengikuti aksi turun jalan menuntut kejelasan tim Persatu tersebut. Mereka bergerak dari titik Stadion Lokajaya sekitar pukul 14.30. Selain berorasi di sepanjang jalan, mereka juga membentangkan spanduk bertuliskan: Wahai Pemegang Saham. Belajar Buta dan Tuli Dimana.
Koordinator aksi, Akbar Bustomi mengatakan, aksi ini dilakukan karena merasa geram dengan statemen CEO Persatu Nasruddin Ali bahwa pihaknya sedang cuti mengurus sepak bola. Padahal, selama ini pemegang saham ditunggu sikapnya untuk memastikan kejelasan Persatu setelah didaftarkan ke Liga 3 Regional Jatim.
‘’Kami sudah muak, makanya kami ingin ngobrol dan meminta kejelasan, sebenarnya pihak pemegang saham ini masalahnya apa?’’ ujarnya.
Disampaikan Akbar, yang diharapkan suporter hanya ingin keterbukaan manajemen dan pemegang saham.
‘’Apa yang bisa dibantu suporter, kami siap membantu. Apa masalahnya, kami, suporter harus tahu,’’ katanya geram. Namun, tegas Akbar, niat baik suporter tidak pernah digubris. ‘’Malah nomor kami diblokir,’’ tambahnya.
Akbar dan suporter lain berjanji akan menggelar aksi lebih besar lagi menyusul kegegalan aksi yang pertama ini. ‘’Kalau nanti, kami tidak ditemui lagi, maka kami akan mengerahkan aksi massa yang lebih besar lagi,’’ ancamnya.
Lebih lanjut dia menyampaikan, tuntutan suporter masih sama, yakni mempertanyakan kejelasan dan keseriusan pemegang saham dalam mengelola persatu. (fud/tok)
Editor : Muhammad Azlan Syah