Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Obsesi Rektor Unisma Profesor Maskuri bagi Kemajuan Kampung Halamannya, Tuban

Dwi Setiyawan • Kamis, 16 November 2023 | 15:14 WIB
Profesor Maskuri, Rektor Kampus UNISMA
Profesor Maskuri, Rektor Kampus UNISMA

Kami Justru Memberi, Bukan Meminta

RADARTUBAN- Setelah sukses membangun Universitas Islam Malang (Unisma) menjadi kampus berkelas dunia, Profesor Maskuri, rektor kampus setempat sekaligus ketua umum Ikatan Kerukunan Keluarga Tuban (IKKT) di Malang ingin memberikan sumbangsih bagi kemajuan tanah air, khususnya di kampung kelahirannya, Tuban.

DIWAWANCARAI Jawa Pos Radar Tuban, Profesor Maskuri mengungkapkan mimpi besarnya. ‘’Saya ingin meningkatkan indeks pembangunan manusia (IPM) Tuban yang masih rendah melalui relasi kerja sama dengan Tuban,’’ tuturnya melalui sambungan telepon. 

Relasi tersebut tidak hanya dengan lembaga pendidikan, namun juga lembaga eksekutif. ‘’Sekarang ini, era networking. Hal-hal yang relevan bisa dikerjasamakan dengan perguruan tinggi,’’ ujar salah satu putra daerah terbaik Tuban kelahiran Dusun Landean Desa Klotok, Kecamatan Plumpang, itu. ‘’Untuk membangun Tuban, diperlukan sikap inklusif, bukan eksklusif,’’ tegasnya. 

Kontribusi apa yang bisa Anda diberikan kepada Tuban? Profesor pendidikan agama Islam itu menerangkan, dengan lembaga pendidikan, kampusnya bisa memberikan pembinaan diklat peningkatan sumber daya manusia (SDM) guru. Begitu juga dengan usaha mikro kecil menengah (UMKM), bidang petanian dan peternakan. Sisi lain, kata dia, kampus juga bisa memberikan pendampingan pemberdayaan untuk memberikan nilai tambah pada sumber daya pertanian dan perkebunan yang dihasilkan. Begitu juga dengan eksekutif, tenaga ahli di kampusnya bisa memberikan kontribusi terkait kemampuan teknologi dan manajemen.

Untuk memberikan sumbangsih bagi kemajuan Bumi Ronggolawe, Profesor Maskuri mengaku sudah proaktif dengan berkirim surat kepada Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky untuk meminta audiensi agar bisa memaparkan program-program strategisnya. ‘’Ini merupakan sumbangsih IKKT dan Unisma bagi kemajuan Tuban,’’ ujar suami Rausana itu.

Begitu juga bagi pemerintahan Bupati Lindra, panggilan akrabnya, dia berharap bupati mudah itu bisa memberikan legacy atau tinggalan inovatif untuk membawa perubahan Tuban lebih baik. ‘’Untuk berkembang dengan cepat harus melibatkan seluruh potensi. Sinergitas harus dibangun dengan mengubah mindset,’’ tegasnya. 

Profesor Maskuri memastikan tawaran kerja kepada Tuban, begitu juga dengan sejumlah daerah lain di Indonesia bukan untuk meminta (dana, Red) atau berharap imbalan. ‘’Kami justru memberi. Karena ini bagian dari dharma atau pengabdian perguruan tinggi dan IKKT,’’ tegas akademisi yang moncer dan masih berusia 54 tahun itu.

Profesor Maskuri mengatakan, Unisma dan IKKT memiliki SDM yang siap membantu kampung halamannya. Para akademisi Unisma dari berbagai disiplin ilmu, kata dia, siap dikerahkan. 

Unisma juga memiliki mahasiswa yang siap diterjunkan dalam program Kandidat Sarjana Mengabdi Tematik. Menurut akademisi kelahiran 10 September 1968 itu, mahasiswa yang tergabung dalam program tersebut dituntut mampu menjadi fasilitator, lokomotif penggerak, dan motivator bersama masyarakat untuk membangun desa berbasis digital. Terutama untuk menciptakan one village one product atau satu desa satu produk.

Ingin Ikuti Jejak Tholchah Hasan

MASKURI kecil di Dusun Landean, Desa Klotok, Kecamatan Plumpang, Tuban, Jatim. Kampung tersebut di tengah rawa yang hampir setiap tahun terendam banjir. Banjir bukan hanya merendam lahan pertanian, namun juga rumah-rumah warga. 

Sejak kecil, Maskuri sudah terbiasa hidup serba keterbatasan. ‘’Setelah pulang sekolah, saya selalu mencari rumput di Desa Compreng, Kecamatan Widang untuk tambahan uang saku,’’ kenangnya. 

Putra seorang petani bernama H. Abu Syukur itu tidak patah semangat merajut mimpi. Setelah lulus dari salah satu madrasah aliyah (MA) di Jombang, Maskuri mengalami perdebatan batin yang hebat. Ayahnya, Abu Syukur sempat melarangnya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Alasannya, sang ayah ingin Maskuri melanjutkan menggarap sawah. Berbeda dengan Shofiyah, ibunya. Dia justru mendukung Maskuri melanjutkan kuliah ke luar kota untuk meraih cita-citanya. ‘’Kedua orang tua buta huruf, tidak bisa baca dan tulis. Tapi, doa mereka selalu mengiringi saya,’’ ucapnya. 

Setelah memutuskan kuliah S-1 di Fakultas Tarbiyah Unisma, Maskuri menghadapi persoalan keuangan yang menuntutnya bekerja. Dia pun memutuskan jualan majalah remaja Anak Saleh dari rumah ke rumah. Sasarannya kantor LP Ma’arif NU di sekitar Lamongan, Tuban, dan Bojonegoro. 

Dukungan penuh dari kedua orang tua membuatnya tak menyerah. ‘’Saya yakin tidak ada doa dari orang tua yang tidak menembus langit,’’ tuturnya. 

Suami Rausana itu mengatakan, saat mahasiswa, dia aktif di sejumlah organisasi. Dikenal sebagai aktivis pergerakan mahasiswa di era Orde Baru, membuat Maskuri dikenal banyak orang. Saat diterima menjadi dosen, karir Maskuri terus meroket hingga dipercaya memimpin banyak organisasi. 

Termasuk pernah menjabat wakil ketua umum Forum Rektor Indonesia (FRI) yang berpartner dengan rektor UGM sebagai ketua umumnya. Jabatan tersebut sangat bergengsi, karena biasa diduduki para rektor perguruan tinggi negeri, untuk memimpin para rektor dari 4.593 perguruan tinggi negeri dan swasta se-Indonesia.

Begitu pula sekarang. Dia juga dipercaya sebagai ketua umum Forum Rektor PTNU tingkat nasional dan ketua umum Asosiasi Pascasarjana Perguruan Tinggi Swasta se-Indonesia. 

Lulusan S-2 dan S-3 Pascasarjana Universitas Brawijaya (UB) Malang yang cumlaude ini adalah orang Tuban kedua yang pernah menjabat sebagai rektor Unisma. 

Sebelumnya, M. Tholchah Hasan juga merupakan putra Bumi Ronggolawe yang sukses memimpin Unisma hingga dipercaya menjadi menteri agama pada era Presiden Abdurrahman Wahid. ‘’Semoga bisa mengikuti jejak beliau (Tholchah Hasan),’’ tutur santri lulusan Ponpes Langitan Tuban dan Tebuireng Jombang itu.

 

Saat dikukuhkan menjadi profesor bidang pendidikan agama Islam pada 1 Januari 2014, Profesor Maskuri masih menjabat sebagai pembantu rektor III Unisma. Tak lama setelah pengukuhan gelar tertinggi bidang akademis tersebut, dia diberi amanah untuk menjadi rektor Unisma sejak 1 Desember 2014 hingga sekarang. 

Tangan dinginnya membawa Unisma menjadi perguruan tinggi papan atas di Indonesia. Bahkan, sudah merambah ke dunia internasional dan sejajar dengan kampus-kampus dari 39 negara. 

Profesor Maskuri juga membawa perubahan besar di kampusnya. Dari jumlah awal mahasiswanya yang hanya 6.000 orang saat awal menjabat, kini sudah menembus 17.000 orang. Hebatnya, 500 mahasiswanya berasal dari luar negeri. 

Unisma juga terakreditasi institusi unggul. Meliputi tujuh prodi terakreditasi internasional di Jerman dan 13 prodi unggul lainnya baik sekali. Tentu, ini adalah prestasi sekaligus lompatan yang luar biasa. Sampai sekarang, Profesor Maskuri masih sering bertandang ke lebih dari 25 negara untuk menjalin kerja sama dengan luar negeri.(ds)

Editor : Kifani Amalija Putri
#UNISMA #rektor #sumbangsih bagi kemajuan Bumi Ronggolawe #Profesor Maskuri