Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Diduga Penuh Nepotisme, Peserta Seleksi Perades Mandiri di Desa Sokosari Unjuk Rasa

M. Mahfudz Muntaha • Jumat, 24 November 2023 | 22:13 WIB
MENUNTUT: Peserta seleksi melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor Desa Sokosari, Kecamatan Soko, karena hasil seleksi dianggap penuh nepotisme, Kamis (23/11).
MENUNTUT: Peserta seleksi melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor Desa Sokosari, Kecamatan Soko, karena hasil seleksi dianggap penuh nepotisme, Kamis (23/11).

RADARTUBAN – Seleksi perangkat desa mandiri di Desa Sokosari, Kecamatan Soko yang digadang-gadang menjadi percontohan, tercederai.

Kamis (23/11) siang, puluhan peserta yang menuding adanya nepotisme dalam proses seleksi tersebut menggelar aksi unjuk rasa di balai desa setempat.

Massa aksi sekitar 50 orang itu meminta klarifikasi kepada panitia terkait nilai salah satu peserta dari keluarga kepala desa yang dianggap janggal.

Dalam aksinya, mereka membentangkan banner bertulisan: Nilai Ora Umum.

Sayang, keinginannya bertemu kepala desa (kades), gagal. Dia hanya ditemui oleh ketua panitia seleksi perades.

Tudingan peserta itu muncul setelah hasil seleksi diumumkan Rabu (22/11).

Dari lima peserta lima formasi atau lowongan, yakni kaur tata usaha dan umum; kepala dusun losari; kasi pemerintahan; kasi kesra; dan kasi pelayanan; kelima nilai peserta yang lolos itu dianggap tidak wajar.

Dibanding peserta lain yang tidak lolos, nilainya sangat jomplang.

Asof, salah satu peserta aksi mengatakan, nepotisme kelima peserta itu sangat mencolok.

Itu tampak sejak awal pendaftaran. Kelima peserta itu menjadi yang pertama mendaftar di masing-masing formasi.

Selanjutnya, nilai tes tulis dari kelima peserta juga tidak masuk akal. Nilai kelimanya nyaris sempurna. Rata-rata mendapat nilai 90. Terpaut jauh dengan peserta peringkat di bawahnya yang rerata hanya mendapat nilai 60-an.

‘’Dan entah kebetulan atau tidak, nilai kelima peserta yang lolos juga hampir sama semua,’’ ujarnya.

Dia mencontohkan, nilai dari peserta atas nama Ahmad Muhaimin, misalnya. Dia adalah anak kepala desa setempat yang melamar lowongan kasi pemerintahan.

Dari 125 pilihan ganda dan 10 soal ujian praktik, nilainya 86,62. Rincian, pilihan ganda 81,20 dan ujian praktik 5,42.

Sementara nilai peringkat dua hanya 62,80. Terpaut jauh.

Kemudian, peserta yang lolos dari kaur TU dan umum atas nama Anisa Rohmawati. Nilai soal pilihan gandanya mencapai 83,30 dan ujian praktik 7,92. Totalnya, 91,22. Sementara peringkat dua hanya 66,57.

‘’Dia memiliki hubungan dekat dengan putra kades Ahmad Muhaimin,’’ kata Asof.

Berikutnya, peserta atas nama Dita Selvi Herlina, pelamar kadus yang dinyatakan lolos ini nilainya juga sangat tinggi. Pilihan ganda 83,30 dan praktik 7,92. Totalnya 91,22.

Sementara peringkat kedua hanya mendapat nilai 68,12.

Begitu juga dengan peserta lolos atas nama Lalu Alex Wijayanto. Pelamar kasi kesejahteraan ini mendapat 89,42. Rinciannya, nilai pilihan ganda 84 dan praktik komputer 4,42. Sementara peringkat di bawahnya hanya 65,87.

Terakhir, Mifta Irma Yunita, pelamar kasi pelayanan yang dinyatakan lolos ini juga mendapat nilai tinggi, 87,73. Rinciannya, pilihan ganda 81,90 dan praktik komputer 5,83.

‘’Yang menguatkan kecurigaan kami (adanya nepotisme, Red), mereka yang lolos itu entah kebetulan atau apa, mereka rata-rata merupakan keluarga dekat dari kades,’’ bebernya.

Untuk itu, dirinya dan peserta seleksi lain menuntut kejelasan kepada pihak panitia dan kepala desa ihwal dugaan nepotisme tersebut.

‘’Hasil ujian ini sangat janggal, sehingga membuat kami bertanya-tanya: bagaimana mereka menjawab soal-soal itu, kok nilainya hampir sempurna semua,’’ katanya.

Kejanggalan lain, lanjut pemuda desa setempat itu, dalam proses koreksi yang semestinya melibatkan peserta, namun tidak ada peserta yang dilibat sama sekali.

‘’Lalu, itu apakah memenuhi syarat atau tidak,’’ imbuhnya.

Sementara itu, korlap aksi, Abdul Rouf mengatakan, kejanggalan lain yang dirasakan oleh peserta, yakni panitia terkesan tertup setelah hasil seleksi diumumkan.

Bahkan, beberapa peserta menanyakan kejelasan hasil seleksi di WA grup malah dikeluarkan oleh panitia.

‘’Padahal, grup WA itu menjadi ajang untuk informasi dari proses yang berjalan. Tapi kami malah dikeluarkan. Ini aneh. Orang yang jujur dan tidak merasa bersalah, itu tidak akan takut, apalagi sampai seperti ini (terkesan tertutup dan arogan dengan mengeluarkan peserta dari grup WA Red),’’ tandasnya. (fud/tok)

Editor : Amin Fauzie
#Tuban #perades mandiri #unjuk rasa #desa sokosari