RADARTUBAN – Mengaku wartawan Jawa Pos Radar Tuban, lalu meminta uang. Modus penipuan yang selalu terjadi setiap tahun itu kembali menyasar sejumlah pejabat di Bumi Ronggolawe.
Sejak sebulan terakhir, penipu itu melancarkan aksinya melalui pesan Whatsapp, SMS (shots message service), hingga panggilan telepon.
Hampir seluruh pejabat yang disasar penipu tersebut menginformasikan melalui telepon kepada crew Jawa Pos Radar Tuban.
Sejumlah pejabat yang jadi sasaran penipuan itu seakan sudah hafal karena penipuan tersebut selalu terjadi setiap tahun.
Modusnya, meminta sumbangan untuk operasi, biaya berobat, dan sebagainya.
Pengawas SMPN Tuban Denny Tricahyo Utomo menuturkan, sejak sebulan terakhir banyak kepala sekolah yang mendapat pesan pendek dan telepon penipu tersebut. Para kasek menghubungi dirinya untuk menginformasikan hal tersebut.
‘’Modus tahunan seperti ini saya sudah hafal, dan saya sudah mengimbau ke semua kasek tidak perlu digubris,’’ tegasnya.
Tidak hanya jenjang SMP saja, pejabat lain di lingkup SMA – SMK juga mendapatkan pesan serupa.
Seperti yang dilaporkan bendahara musyawarah kerja kepala sekolah (MKKS) SMAN Tuban Syaiful Annas. Ini adalah tahun kelima dirinya mendapat pesan penipuan tersebut.
‘’Modusnya meminta uang karena ada keluarga wartawan Radar Tuban yang sedang sakit,’’ ungkap dia.
Selain itu, ada banyak pejabat lain di luar dunia pendidikan yang menjadi sasaran penipuan tersebut.
Untuk penyaluran dana bantuan, biasanya si penipu mengirim pesan yang dilengkapi nomor rekening.
Si penipu selalu menggunakan nama kru Radar Tuban yang sudah banyak dikenal, seperti Tulus, Dwi, Yudha, Atok, dan lainnya.
Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Tuban Dwi Setiyawan mengatakan, penipuan dengan modus tersebut sudah lama terjadi dan cenderung terulang pada waktu tertentu.
Meski materi yang dikirim sama persis, namun nomor yang digunakan pelaku penipuan tersebut selalu berganti. Pun dengan nomor rekening pelaku juga terus berganti.
Dwi menyampaikan, mereka yang mendapat kiriman SMS tersebut tidak hanya pejabat di lingkungan institusi pendidikan, namun juga pemkab dan pengusaha.
‘’Karena sudah hafal, sebagian besar pejabat pemkab tidak merespons,’’ ujar wartawan bersertifikasi utama itu.
Dia mengatakan, sekitar empat tahun lalu dirinya pernah meminta bantuan anggota Satreskrim Polres Tuban untuk men-tracking nomor tersebut.
Diketahui pengguna nomor ponsel tersebut berada di salah satu kabupaten di Jawa Timur.
‘’Jika ada yang mengatasnamakan dari media kami dan meminta sejumlah uang, lebih baik diabaikan,’’ tegasnya. (yud)
Editor : Amin Fauzie