RADARTUBAN – Pelebaran jalan lingkar selatan (JLS) di ruas Jalan Soekarno-Hatta sudah hampir rampung. Tinggal tahap pengaspalan. Namun, hingga saat ini belasan tiang listrik PLN masih menancap di sepanjang jalan tersebut.
Staf Lapangan Satuan Kerja Pelaksana Jalan Nasional Wilayah IV Jawa Timur Siska Yufina mengatakan, dari awal November 2023 lalu, pihak sudah menghubungi pihak PLN agar segera memindahkan tiang yang menghalangi proyek pelebaran jalan.
Namun, hingga saat ini tak kunjung ada pembongkaran.
‘’Tiang listrik yang masih berjejer milik PLN Rayon Bojonegoro, semoga segera berbenah,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Tuban, Rabu (3/1).
Ditegaskan Siska, jika sampai akhir Januari ini masih tak kunjung dipindahkan, maka proses pengaspalan jalan akan tetap dilakukan. Artinya, belasan tiang listrik itu nantinya akan tetap berdiri, dan itu akan mengganggu pengguna jalan.
‘’Masih kami tunggu hingga akhir Januari ini untuk dipindahkan. Tapi jika tidak dipindahkan, akan tetap diaspal,’’ ujar dia.
Dikatakan Siska, keputusan akan tetap dilakukan pengaspalan itu karena kontraktor yang mengerjakan proyek tersebut tidak ingin molor.
Sebab, jika proyek molor dari target, maka risikonya membayar denda.
‘’Nantinya (tiang listrik yang masih berdiri, Red) akan diberi rambu peringatan,’’ terangnya.
Lebih lanjut, Siska menyampaikan, proyek lanjutan pelebaran JLS di Jalan Soekarno-Hatta itu sudah memasuki tahapan akhir.
Sebagian besar tinggal menyisakan tahap pengaspalan, termasuk sisi jalan yang masih tertanam tiang listrik PLN.
‘’Untuk pengerjaan fisik lainnya, seperti saluran air di masing-masing bahu jalan juga sudah selesai,’’ ujar alumni Politeknik Negeri Malang itu.
Sebelumnya, pihak Satuan Kerja Pelaksana Jalan Nasional Wilayah IV Jawa Timur juga sempat dipusingkan dengan tiang dan boks milik jasa layanan internet yang terpasang di sepanjang Jalan Soekarno-Hatta.
Hanya saja, pihak jasa layanan internet itu langsung tanggap. Beda dengan PLN yang hingga saat ini belum ada tindakan.
‘’Untuk tiang-tiang kabel internet sudah dipindahkan semua,’’ jelasnya.
Alumni SMA Negeri 2 Blitar itu mengungkapkan, seharusnya yang menangani masalah pembebasan lahan dan juga kendala bangunan atau barang yang mengganggu pengerjaan proyek adalah tanggung jawab dinas tekait di lingkup Pemkab Tuban.
Namun, justru malah pihaknya yang menyelesaikan sendiri permasalahan tersebut.
Beberapa jasa layanan internet yang ditemui mengatakan bahwa pihak dinas belum memberi arahan untuk menyeterilkan wilayah yang dilalui proyek pelebaran jalan,
‘’Dinas terkait juga sudah saya hubungi, tapi belum memberikan respon terkait masalah ini,’’ ujar Siska.
Sebagaimana diketahui, proyek lanjutan JLS itu menelan anggaran sebesar Rp 103 milyar.
Bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).
Pengerjaan dimulai sejak Januari 2023. Diperkirakan selesai pada April 2024. (an/tok)
Editor : Amin Fauzie