RADARTUBAN - Melihat susah-sulitnya keadaan yang dihadapi petani, sepertinya wajar apabila jumlah petani terus menurun. Minim generasi.
Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) Tuban, jumlah petani di Bumi Ronggolawe mengalami penyusutan hingga 38 ribu orang dalam sepuluh tahun terakhir.
Saat ini, jumlah usaha pertanian perorangan (UTP) di Tuban tercatat 230.134 orang. Turun 16,75 persen dari satu dekade lalu atau sejak 2013.
Saat itu, jumlah petani perorangan masih tercatat sebanyak 268.681 orang.
Ketua BPS Tuban Andhie Surya Mustari mengatakan, jumlah petani paling banyak berada di Kecamatan Soko, yakni 21.213 orang.
Berikutnya, disusul Kecamatan Semanding sebanyak 20.967 orang. Sedangkan kecamatan lain di bawah 20 ribu.
Jumlah petani paling sedikit ditempati Kecamatan Tuban, yakni 3.554 orang. Hal itu dapat dimaklumi karena Kecamatan Tuban merupakan wilayah perkotaan dan lahan permukiman. Berikutnya, disusul Kecamatan Kenduruan sebanyak 7.280 orang dan Bangilan 7.353 orang.
‘’Setiap kecamatan, rata-rata menurun,’’ kata Andhie—sapaan akrabnya.
Menurunnya jumlah perorangan yang menjadi petani ini menunjukkan bahwa petani tak lagi diminati oleh generasi muda.
Sebagian besar generasi muda masih menganggap bahwa pekerjaan petani tidak menjanjikan.
‘’Rata-rata (anak dari petani, Red) memilih pekerjaan di bidang jasa ketimbang meneruskan orang tuannya menjadi petani,’’ kata Andhie.
Berdasar data BPS, petani yang berusia 25-44 tahun atau generasi milenial hanya berkisar 28 persen.
Sisanya, generasi X dan baby boomers—yang usianya di atas 45 tahun.
Padahal, jumlah generasi milenial sangat tinggi.
Harto, salah satu petani milenial di Kecamatan Palang menuturkan, menjadi petani lebih pada keterpaksaan karena sulit mencari pekerjaan lain.
Sebelumnya, dia merupakan pekerja migran. Namun, karena sudah tidak ada harapan bertahan di luar negeri, sehingga memutuskan pulang dan menjadi petani.
‘’Andai saja saya punya skill lain, saya tidak memilih menjadi petani. Menjadi petani itu susah. Susahnya sejak awal. Benih mahal, cari pupuk subsidi sulit, saat panen harga malah anjlok. Belum lagi saat tanaman diserang hama. Wes pokok dadi petani itu susah,’’ keluhnya.
Ditegaskan Harto, jangan berharap generasi muda berminat menjadi petani jika untuk mendapat pupuk subsidi saja masih susah.
Senada disampaikan Bambang, petani asal Kecamatan Plumpang. Selama pemerintah tidak bisa menjamin kemudahan-kemudahan untuk petani, maka jangan berharap generasi muda berminat menjadi petani.
‘’Kalaupun ada, mungkin karena terpaksa—tidak ada pilihan pekerjaan lain,’’ tandasnya. (zia/tok)
Editor : Amin Fauzie