RADARTUBAN - Bertahannya sebagian warga di Kecamatan Kenduruan, Bangilan, dan Jatirogo yang sampai saat ini masih memelihara kerbau, ternyata sudah memiliki pangsa pasar yang jelas.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP2P) Tuban Eko Julianto mengatakan, warga Tuban sangat jarang mengonsumi daging kerbau, bahkan hampir tidak ada.
Lantas, dijual kemana kerbau-kerbau peliharan warga di tiga kecamatan tersebut?
Disampaikan Eko, kerbau dari Tuban biasanya dikirim ke Jepara dan Kudus. Berdasar informasi yang diterima, kerbau-kerbau itu untuk memenuhi permintaan warga di dua kabupaten tersebut.
‘’Di sana (Jepara dan Kudus, Red) masih ada kepercayaan pantang mengonsumsi daging sapi yang dianut oleh sebagian warga. Sehingga gantinyan adalah daging kerbau,’’ katanya.
Merujuk beberapa literatur, pantangan tersebut dikaitkan dengan larangan Sunan Kudus terhadap masyarakat setempat mengonsumsi daging sapi.
Tujuannya, ketika itu untuk menghormati para pemeluk agama Hindu yang saat itu masih mayoritas.
Bagi umat Hindu, sapi diyakini sebagai jelmaan Dewa Siwa.
Karena itu, sapi sangat disucikan.
Dan salah satu wujud pensakralannya adalah tidak memakan daging sapi.
Larangan Sunan Kudus tersebut lantas mendapat simpati dari umat Hindu, hingga sebagian besar dari mereka memeluk agama Islam.
Itulah yang kemudian menjadikan kerbau memiliki nilai ekonomis di Kudus dan Jepara.
Terutama saat momen kurban, banyak tengkulak dari Kudus membeli kerbau dalam jumlah banyak.
Biasanya, kerbau dari Tuban yang dikirim ke Jepara dan Kudus disembelih untuk memenuhi kebutuhan rumah makan sate dan gule kerbau di dua kota tersebut.(zia/tok)
Editor : Amin Fauzie