Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Musim Hujan, Omzet Petani Belimbing di Tuban Menurun Drastis

Andreyan (An) • Senin, 5 Februari 2024 | 23:00 WIB
TAK MAKSIMAL: Salah satu petani belimbing di Desa Tasikmadu, Kecamatan Palang menunjukkan hasil panen yang harganya merosot.
TAK MAKSIMAL: Salah satu petani belimbing di Desa Tasikmadu, Kecamatan Palang menunjukkan hasil panen yang harganya merosot.

RADARTUBAN – Musim hujan menjadi momok bagi petani belimbing madu. Selain harus dipusingkan dengan datangnya hama penyakit, harga jual buah ini juga ikut merosot seiring dengan bertambahnya curah hujan yang mulai menemui puncaknya itu.

Seperti yang di alami oleh Yasin, petani belimbing asal Desa Tasikmadu, Kecamatan Palang yang mengaku pendapatannya menurun drastis di musim penghujan ini.

Lahan sekitar kurang lebih 15 hektar yang dia Kelola itu biasanya bisa menghasilkan 1-2 ton sekali panen, kini hanya mampu memanen sekitar 6-7 kuintal saja.

‘’Harga jualnya juga ikutan anjlok,’’ ujarnya Lebih lanjut dia mengatakan, saat musim hujan seperti sekarang ini, harga belimbing madu hanya Rp 9 ribu per kilonya.

Padahal sebelumnya, harga komoditas buah andalan Tuban itu bisa mencapai Rp 12 ribu – Rp 20 ribu per kilogram.

‘’Untuk balik modal saja bakal susah jika harga jualnya tidak sampai Rp 12 ribu per kilonya,’’ ungkap dia.

Petani berusia 55 tahun itu mengungkapkan, musim penghujan sangat memengaruhi kualitas rasa dari buah belimbing yang dia tanam.

Rasanya tak semanis ketika di luar musim hujan. Hal itulah yang membuat harga jual turun.

‘’Harganya ikutan merosot seiring kualitas rasanya yang menurun,’’ kata dia.

Hal serupa juga dirasakan oleh Mustain, petani belimbing di desa setempat, pendapatannya menurun drastis di musim hujan kali ini.

Pendapatan sekali panen saat ini yang hanya sekitar Rp 30 juta belum mampu menutupi biaya operasional yang hampir mencapai Rp 60 juta.

‘’Pengeluaran paling banyak dialokasikan untuk kebutuhan pupuk, obat, dan biaya perawatan yang sekarang ini mahal,’’ tutur dia.

Lebih lanjut dia menambahkan, hama buah yang mulai marak membuat biaya produksi yang dikeluarkan semakin banyak.

Mustain menuturkan, jika tidak segera ditangani, hama ulat buah yang merambah akan berpotensi menular ke pohon belimbing lain yang dia tanam.

‘’Petani semakin pusing sekarang ini dengan harga pupuk yang langka dan mahal,’’ ungkapnya. (an/yud)

Editor : Amin Fauzie
#Tuban #belimbing madu #Desa Tasikmadu Kecamatan Palang #musim hujan #petani