Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Waspada, TMA Bengawan Solo Terus Naik, Ratusan Hektare Sawah-Sekolah Mulai Terendam Banjir

Aimatul Fauziyah • Kamis, 8 Februari 2024 | 21:24 WIB
PANEN DINI: Salah satu petani di Desa Kedungsoko, Kecamatan Plumpang memanen tanaman jagungnya ditengah banjir.
PANEN DINI: Salah satu petani di Desa Kedungsoko, Kecamatan Plumpang memanen tanaman jagungnya ditengah banjir.

RADARTUBAN – Warga di sepanjang bantaran Sungai Bengawan Solo diharap
untuk mulai waspada.

Itu menyusul tinggi muka air (TMA) yang hingga tadi malam terus naik. Bahkan berpotensi masuk siaga merah.

Sebab, TMA di papan duga Babat sudah melebihi batas maksimal siaga kuning, yakni di atas 8,41 meter.

Pantauan Jawa Pos Radar Tuban, Rabu (7/2), ratusan hektare lahan persawahan dan sebagian desa di Kecamatan Soko, Rengel, Plumpang, dan Widang mulai tergenang.

Dari empat kecamatan yang dilintasi sungai terpanjang di Pulau Jawa itu, kondisi cukup parah tampak di Kecamatan Plumpang.

Ratusan hektare sawah, puluhan rumah warga di beberapa desa, hingga lembaga pendidikan sudah tergenang.

Camat Plumpang Saefiyudin menuturkan, hingga kemarin sudah ada tujuh desa di Kecamatan Plumpang yang terdampak luapan Bengawan Solo.

Di antaranya, Desa Kebomlati, Kedungsoko, Kedungrojo, Plandirejo, Klotok, Sembungrejo, dan Bandungrejo.

Dari tujuh desa itu, rinciannya, 1,7 kilometer jalan poros desa, 48 rumah, 105 hektare sawah dan tegalan, dan 18 hektar pekarangan.

‘’Kerugian sementara ditaksir sekitar Rp 240 juta,’’ ujarnya.

Kerugian yang cukup besar itu karena sebagian lahan persawahan terancam gagal panen.

Lebih lanjut, Saefiyudin menyampaikan, genangan cukup parah berada di Desa  Kebomlati.

Sebab, desa ini berada tepat di selatan tanggul sungai. Karena kondisi tanggung belum sepenuh baik, sehingga paling terdampak.

‘’Sebenarnya sudah dibuatkan urugan jalan, tapi masih belum bisas menghambat laju luberan air dari Bengawan Solo, sehingga dengan cepat merendam rumah-rumah warga,’’ ujarnya.

Adapun tiga lembaga pendidikan yang terendam, lanjut Saefiyudin, yakni SDN Kebomlati, MI Islamiyah Kebomlati, dan MTs Islamiyah Kebomlati.

‘’Karena halaman sekolah sudah tergenang dan mengganggu aktivitas belajar mengajar, sehingga sekolah terpaksa diliburkan,’’ katanya.

Kendati puluhan rumah sudah terendam, namun belum ada warga yang mengungsi.

‘’Sudah kami sediakan tempat rumah aman seperti di balai desa, gedung Serbaguna, dan beberapa tempat aman lainnya, tapi belum ada yang mengungsi,’’ tandasnya.

Mulyo, salah satu warga Desa Kebomlati, Kecamatan Plumpang yang rumahnya turut terendam mengaku tetap memilih bertahan di rumah ketimbang mengungsi.

‘’Setiap tahun seperti ini, sudah biasa,’’ katanya.

Aris Sudibyo, warga lain mengaku cukup terpukul dengan luapan Bengawan Solo yang cukup mendadak ini.

Sebab, seluruh lahan sawahnya terendam. Sehingga hampir pasti gagal panen.

‘’Sudah risiko,’’ tandasnya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban Sudarmaji membenarkan ihwal potensi siaga merah tersebut.

Pasalnya, ketinggian muka air di papan duga Babat masih terus naik. Hanya saja, pihaknya belum bisa menyampaikan secara detail data wilayah terdampak luapan Sungai Bengawan Solo.

‘’Teman-teman di lapangan belum selesai asesmen (pendataan, Red),’’ tandasnya. (zia/tok)

Editor : Amin Fauzie
#Tuban #papan duga Babat #TMA Bengawan Solo #Siaga Merah #BPBD Tuban