RADARTUBAN – Setelah sempat hampir menyentuh siaga merah. Kamis (8/2), tinggi muka air (TMA) Sungai Bengawan Solo perlahan surut, dan kembali di bawah siaga.
Meski demikian, warga di sepanjang bantaran Sungai Bengawan Solo diminta untuk tetap waspada.
Pasalnya, TMA sungai terpanjang di Pulau Jawa ini masih berpotensi naik menyusul cuaca ekstrem yang diprediksi masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.
‘’Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, karena BMKG (badan meteorologi, klimatologi, dan geofisika) bahwa bulan ini merupakan puncak musim penghujan,’’ kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban Sudarmaji.
Disampaikan Darmaji—sapaan akrabnya, perkembangan terakhir tadi malam, tren TMA dari hulu hingga hilir mengalami penurunan.
Di Tuban, berdasar titik pantau di papan duga Babat, TMA Sungai Bengawan Solo yang membentang dari Kecamatan Soko, Rengel, Plumpang, dan Widang kembali di bawah siaga, yakni 7,62 meter dari batas atas siaga hijau 7,91 meter.
‘’Untuk sementara aman (di bawah siaga, Red),’’ tuturnya.
Disinggung ihwal kiriman air dari hulu yang berpotensi memicu kenaikan TMA di hilir, mantan Camat Plumpang itu menyampaikan, sejauh ini kondisi di hulu terpantau aman.
Namun, dia kembali menyampaikan bahwa cuaca ekstrem diprediksi masih akan berlangsung sepanjang puncak musim penghujan.
‘’Pada intinya, kami mengimbau untuk tetap waspada,’’ ujarnya.
Lebih lanjut doktor ilmu sosiologi jebolan Universitas Brawijaya Malang itu menyampaikan, berdasar asesmen BPBD di lapangan, luapan Sungai Bengawan Solo pada Rabu (7/2) lalu menggenangi sejumlah titik di sedikitnya 17 desa di tiga kecamatan.
Yakni, Desa Menilo, Simo, Kendalrejo, Mojoagung, Pandawangi, Sandingrowo, Kenongosari, Glagahsari, Kecamatan Soko.
Kemudian Desa Karang tinoto, Tambakrejo, Kanor, Ngadirejo, Sawahan, Kecamatan Rengel.
Sedangkan di Kecamatan Widang meliputi Desa Ngadipuro, Kedungharjo, Simorejo, dan Patihan.
Dari 17 desa di Kecamatan tersebut, rerata yang tergenang adalah lahan persawahan.
Sedangkan permukiman hanya sebagian, dan tidak sampai mengakibatkan warga mengungsi.
Berapa kerugian sementara belum bisa dipastikan. (tok)
Editor : Amin Fauzie