Hari ini, Rabu (14/2), pemungutan suara Pemilu 2024 akan dilangsungkan. Saatnya masyarakat menentukan pilihan. Memilih calon presiden dan wakil presiden (caprescawapres), calon anggota dewan perwakilan rakyat (DPR) RI, anggota dewan perwakilan daerah (DPRD) provinsi, DPRD kabupaten/kota, dan anggota dewan perwakilan daerah (DPD).
TANPA menafikan peserta pemilu lain, dari lima kertas suara, sepertinya hanya capres-cawapres yang paling banyak mendapat porsi elektoral.
Bahkan, pemilu serentak ini seakan hanya memilih capres-cawapres.
Pun demikian di Tuban. Perbincangan dukungan terhadap capres-cawapres lebih mendominasi.
Sedangkan calon anggota legislatif (caleg) dan calon DPD hanya ramai di baliho, kalender, dan stiker-stiker yang dibagikan ke rumah-rumah warga menjelang hari H coblosan.
Lantas, dari tiga pasangan capres-cawapres, yakni Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD, siapa yang berpotensi memenangi pilpres di Bumi Ronggolawe?
Praktisi politik Sullamul Hadi menuturkan, meski Pemilu 2024 ini tidak menyertakan Jokowi sebagai calon presiden menyusul batas jabatan dua periode, namun konstelasi pilpres tahun ini tetap tidak bisa dipisahkan dari hasil pilpres sebelumnya.
Sebab, pasangan nomor urut 02 Prabowo-Gibran merupakan representatif dari ke lanjutan Jokowi.
Terlebih, Gibran merupakan anak kandung Jokowi dan Prabowo telah menjadi bagian dari pemerintahan Jokowi.
‘’Secara umum, Pilpres 2024 ini menguntungkan pasangan nomor 02,’’ katanya memberikan analisa.
Sebagaimana diketahui, perolehan suara Jokowi pada dua kali pilpres sebelumnya mencapai 50 persen lebih.
Persisnya, 58,21 persen pada Pilpres 2019 dan 73,13 persen di 2019.
Artinya, dua kali pilpres, Jokowi berhasil menang telak di Tuban.
Apakah pasangan Prabowo-Gibran mampu mendulang kembali suara Jokowi?
‘’Dulu memilih Jokowi dan sekarang tidak suka Jokowi, perubahan pilihan itu wajar. Tapi yang jelas, sepertinya masih banyak yang bertahan (senang dengan Jokowi, Red), dan suara itu akan diberikan kepada anaknya (Gibran, Red),’’ ujarnya.
Diakui Gus Hadi, siklus politik sepuluh tahunan memang tidak bisa dihindarkan.
Ketika sudah sepuluh tahun dipimpin orang yang sama, ada kejenuhan yang merambati masyarakat.
Namun, terang dia, faktor ini sepertinya tidak banyak merubah pilihan.
‘’Mungkin sebagian orang sudah jenuh dengan Jokowi, apalagi Jokowi dianggap sebagai petugas partai. Tapi menjelang pilpres, Jokowi berhasil menunjukkan kepada masyarakat bahwa dirinya bukan petugas partai, dan itu membuat sebagian orang masih simpatik,’’ katanya.
Rasa simpatik itu, terang Gus Hadi, kemudian dilanjut dengan menjatuhkan pilihan kepada pasangan Prabowo-Gibran—yang dianggap representatif Jokowi.
Namun, tegas mantan Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Tuban itu, politik itu dinamis.
Meski dari segi analisa elektoral dan merujuk hasil pilpres sebelumnya —memungkinkan pasangan Prabowo-Gibran memenangi pilpres di Tuban, namun segalanya masih bisa berubah.
Terlebih, pasangan nomor urut 01 Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar dan pasangan nomor urut 03 Ganjar Pranowo-Mahfud MD adalah sosok baru sekaligus antitesa dari Jokowi.
‘’Tapi yang jelas, Gibran berpengaruh untuk mempertahankan suara Jokowi yang dua kali memenangi pilpres di Tuban,’’ tandasnya.
Disinggung soal kriteria rerata pemilih Tuban? Gus Hadi menuturkan bahwa mayoritas masyarakat Tuban merupakan pemilih rasional.
Namun, dia menjelaskan, rasional yang dimaksud tidak sekadar diartikan untuk menilai tiga pasangan capres-cawapres.
Tapi rasionalitas tersebut juga berlaku untuk Jokowi.
Hal ini sekaligus menegaskan bahwa Pilpres 2024 ini memang tidak bisa dilepaskan dari pengaruh Jokowi.
‘’Secara umum, pemilih di Tuban itu rasional. Rasional memilih satu dari tiga pasangan capres-cawapres dan rasional terhadap pemerintahan Jokowi,’’ jelasnya.
Yang dimaksud rasional terhadap pemerintahan Jokowi ini adalah hal yang berkaitan dengan kelanjutan pembangunan.
‘’Pilpres 2024 ini memang unik. Bagi yang menganggap Jokowi berhasil, mereka akan berpikir rasional—memilih calon yang melanjutkan pemerintahan Jokowi. Tapi ada juga yang berpikir rasional terhadap sosok dari tiga calon capres-cawapres saja. Pemilih rasional terhadap calon ini mengesampingkan sosok Jokowi,’’ tandasnya. (tok)
Editor : Amin Fauzie