Keluarga janda Samijah tinggal di kawasan Puri Indah sejak 1982. Dia termasuk penghuni pertama. Ketika itu, perumahan elit tersebut belum berdiri.
SAMIJAH masih mengingat jelas kondisi kawasan Puri Indah di era 1980-an. Sepanjang mata memandang terhampar tanah berbatu. Tanaman yang tumbuh pun jenis tertentu. Terbanyak jaranan, bidara, dan serut.
Sebagian kecil bogor, nama pohon siwalan.
Beberapa petak lahan yang memungkinkan ditanami dijadikan tegalan jagung oleh pemiliknya.
Hamparan tanah berbatu di Puri bagian timur diberi nama Bong Ireng.
Nama tersebut terkait banyaknya makan etnis China.
Sedangkan di bagian barat, termasuk kawasan tempat tinggalnya, bernama Tegal Blumbung.
Samijah menuturkan, di era 1980-an hanya beberapa rumah yang masih berdiri.
Kondisinya juga masih sepi dan gelap. Baru sekitar tiga tahun kemudian, perumahan yang dihuni mayoritas aparatur sipil negara (ASN), polisi/tentara, karyawan swasta, hingga pengusaha itu dibangun.
‘’Kulo niki asline Mbangbilo,’’ tuturnya.
Da erah dimaksud adalah Desa Kembangbilo, Kecamatan Tuban yang berjarak sekitar empat kilometer dari perumahan tersebut.
Lahan yang dihuni keluarga Samijah merupakan pemberian Buat, suami pertamanya yang warga Bejagung, Kecamatan Semanding.
Dari pernikahan tersebut, lahir Kasiati pada 31 Januari 1988.
Setelah suami pertamanya meninggal, Samijah menikah lagi dengan Subekan, warga Lamongan. Pernikahan kedua tersebut tidak dikaruniai buah hati.
Samijah kembali menikah dengan Karji. Buah cinta dengan warga Bojonegoro itu, lahir Amar Makruf pada 1998.
Samijah tidak pernah sekolah. Karena itu, dia tidak bisa membaca maupun menulis.
‘’Nek yotro kulo ngertos (Kalau uang saya paham, Red),’’ guraunya memecah suasana keheningan Jumat (9/2) petang ketika Jawa Pos Radar Tuban kali pertama mendatangi rumahnya.
Kasiati, anak pertama Samijah juga menjanda setelah suaminya meninggal.
Dari pernikahannya, Kasiati dikaruniai satu anak bernama Mustofa Bisri Ahmadun yang kini berusia delapan tahun.
Lingkungan elit sekitar Perum Puri Indah tidak hanya mengabaikan keluarga janda Samijah yang rumahnya gelap gulita sepanjang malam tanpa penerangan listrik.
Penghuni pertama di Puri Indah itu juga seperti tamu di lingkungannya sendiri.
Terbukti, tak banyak yang kenal dengan janda Samijah. Begitu juga Kasiati, anak pertamanya dan Mustofa, sang cucu.
Ketika wartawan koran ini menyebut nama-nama tersebut kepada sejumlah warga di sekitar 350 meter dari rumah Samijah pada Jumat (9/2) sore, tak satu pun yang mengenal.
‘’Maaf tidak kenal,’’ ujar salah satu warga yang ditemui di Jalan Kratau.
Kesan individualis sebagian besar warga Perum Puri Indah dirasakan M. Toyib.
Dia mengatakan, terkesan sebagai warga di perumahan elit tersebut mementingkan diri sendiri, minim interaksi dengan lingkungan, dan tidak mau tahu dengan urusan orang lain. Termasuk tetangga terdekat.
‘’Tinggi dan rapatnya pagar-pagar bangunan rumah tetangga membuat kepekaan sosial mereka tergerus,’’ ujar warga Desa Prunggahan Wetan, Kecamatan Semanding yang juga teman akrab Kasiati itu.
Karena itu, dia sangat menyayangkan kondisi miskin keluarga janda Samijah yang rumahnya cukup lama tanpa penerangan listrik tidak mendapat uluran tangan dari lingkungan sekitar.
Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Al Uswah Tuban yang pintu gerbang keluarnya berhadap-hadapan dengan rumah keluarga Samijah juga memandang sebelah mata.
Kasiati mengatakan, sempat mendaftarkan anak semata wayangnya ke sekolah elit yang gedungnya berlantai dua itu.
Namun, setelah tes dan dinyatakan lulus, dia diminta pihak sekolah untuk mengurus surat keterangan tidak mampu dari kelurahan.
Setelah keterangan tersebut jadi, kata dia, anaknya diminta mengundurkan diri
dengan alasan yang tidak jelas.
‘’Mungkin, khawatir nggak bisa bayar,’’ ujar perempuan kelahiran 31 Januari 1988 itu.
Sekarang ini, Tofa sekolah di SDN Sidorejo 2 Tuban yang hanya berjarak sekitar 1,5 kilometer dari rumahnya.
Untuk pulang pergi dari sekolah, bocah tersebut naik sepeda pancal.
Kepala SDIT Al Uswah Tuban M. Shultoni dalam keterangan tertulisnya yang dikirim melalui WhatsApp (WA) membenarkan kalau Tofa pernah mendaftar.
‘’Terkait PPDB (pendaftaran peserta didik baru, Red) insyaallah sudah clear dan terselesaikan,’’ tulisnya.
Disinggung kepedulian lembaga pendidikannya terhadap keluarga Samijah, dia menyampaikan jika ada konfirmasi, SDIT siap membantu.
Lurah Latsari, Kecamatan Tuban M. Gufron mengatakan, setelah Radar Tuban memberitakan, Senin (12/2), dirinya langsung ke rumah Samijah untuk survei untuk pengusulan bantuan sosial.
Dia juga menyampaikan rencana memplester lantai rumah duafa tersebut dengan dana swadaya kelurahan.
Langkah lain yang dilakukan kelurahan, kata Gufron, berkoordinasi dengan Baznas Tuban terkait bantuan pemasangan listrik gratis dan pemberian rombong untuk usaha dagang.
Terkait minimnya kepekaan warga di lingkungan Perum Puri Indah, dia mengaku tidak tahu persis karena baru tiga bulan menjabat sebagai Lurah Latsari.
‘’Kalau itu saya tidak tahu. Saya baru mulai bertugas 8 Desember lalu,’’ ujarnya. (ds)
Editor : Amin Fauzie