RADARTUBAN – Virus cikungunya yang disebabkan gigitan nyamuk demam berdarah dengue (DBD) di Tuban kembali memakan korban.
Beberapa pekan lalu, satu pasien DBD anak-anak dikabarkan meninggal dunia.
Kabar duka tersebut dibenarkan oleh Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes-P2KB) Tuban Syahrul Afifa Ratna Sari.
Dikatakan dia, pasien DBD yang meninggal itu merupakan anak-anak berusia sekitar sembilan tahun.
‘’Asal Kecamatan Bangilan,’’ kata Ratna—sapaan akrabnya.
Disampaikan Ratna, sejak Januari hingga sekarang, jumlah penderita DBD di Kota Legen mencapai 87 kasus. Tersebar di 16 kecamatan dari total 20 kecamatan se-Kabupaten Tuban.
Rinciannya, Kecamatan Kenduruan (1 kasus), Bangilan (9 kasus), Senori (1 kasus), Parengan (6 kasus), Soko (7 kasus), Rengel (3 kasus), dan Grabagan (1 kasus).
Kemudian, Kecamatan Plumpang (3 kasus), Palang (6 kasus), Semanding (5 kasus), Tuban (3 kasus), Merakurak (4 kasus), Kerek (1 kasus), Bancar (8 kasus), dan Jatirogo 29 kasus.
‘’Terbanyak di Kecamatan Jatirogo, tapi Alhamdulillah tidak sampai ada pasien yang meninggal,’’ ujar Ratna.
Lebih lanjut, pejabat eselon III lulusan Universitas Airlangga (Unair) itu menyampaikan, tingginya persebaran virus nyamuk aedes aegypti di Jatirogo ini ditengarai karena minimnya kesadaran masyarakat dalam melakukan pemberantasan anti nyamuk (PSN).
‘’Masyarakat masih bergantung pada fogging atau pengasapan yang dianggap sebagai upaya terbaik untuk menangani kasus DBD, padahal itu tidak efektif,’’ ujarnya.
Ratna menyampaikan, seluruh kecamatan yang terdapat pasien DBD sudah dilakukan fogging. Namun, Ratna kembali menegaskan bahwa fogging bukanlah langkah efektif untuk mem berantas nyamuk DBD.
‘’Tak henti-hentinya kami mengingatkan untuk menguras bak mandi atau penampungan, menutup tempat penampungan air, dan mengubur barang bekas atau mendaur ulang barang bekas. Karena itu yang paling efektif memberantas nyamuk demam berdarah,’’ tandasnya. (zia/tok)
Editor : Amin Fauzie