RADARTUBAN – Sejumlah wilayah memang baru memulai masa tanam beberapa pekan lalu. Namun, di lain tempat, ada ribuan hektar tanaman padi yang sudah memasuki masa panen sejak awal Februari.
Hasil panen padi yang diperkirakan menghasilkan ribuan ton itu ternyata belum bisa meredam harga beras yang hingga Kamis (29/2) masih mahal.
Lantas kenapa kenaikan harga beras secara nasional juga berdampak di Tuban? Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP2P) Tuban Eko Julianto mengatakan, selama Februari ada 7.600 hektar sawah yang dilaporkan dalam masa panen.
Ribuan hektar itu diperkirakan menghasilkan 30 ribu ton beras. Pasokan tersebut dinilai cukup untuk mengkaver kebutuhan masyarakat.
Eko sapaan akrabnya menuturkan, ada enam kecamatan yang saat ini masih dalam masa panen. Meliputi Kecamatan Singgahan, Widang, Plumpang, Rengel, Jenu, dan Merakurak.
Apa yang membuat harga beras masih tinggi? Mantan Kabag Kesra ini tidak bisa berkomentar banyak.
‘’Kalau harga beras kaitannya dengan Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, dan Perdagangan (Diskopumdag),” pungkasnya.
Dalam beberapa bulan ke depan, dia mengatakan ada panen raya dari seluruh kecamatan.
Dia berharap harga beras akan ikut menurun seiring dengan adanya panen raya.
‘’Tapi mungkin harganya tetap (tidak turun siginifikan, Red), dengan pertimbangan dengan harga pupuk dan upah buruh selama proses tanam,” jelasnya.
Eko mengakui terjadi sedikit penyusutan produksi padi di Tuban dibanding dengan tahun 2022.
Disampaikan dia, banyak petani padi yang beralih ke tanaman jagung karena terdampak El Nino.
‘’Karena kurang air, jadi masyarakat menilai tanaman jagung lebih aman,” jelasnya.
Eko manambahkan, selama 2023 produksi padi atau gabah sebesar 640.547 ton.
Jumlah tersebut menurun 20.453 ton jika dibanding tahun 2022 yang memroduksi 661.000 ton.
Meski demikian, Eko mengatakan produksi padi di Tuban masih surplus jika dibandingkan dengan kebutuhan konsumsi masyarakat.
Dijelaskan dia, produksi padi sebesar 640.547 ton gabah pada tahun lalu setara dengan 404.000 ton beras.
Sementara kebutuhan konsumsi untuk masyarakat hanya 103.886 ton.
‘’Perolehan angkanya dari jumlah penduduk 1.209.543 dikali dengan kebutuhan perorangnya sebesar 85,88 kg beras, jadi surplus 300.939 ton beras,” papar dia. (zia/yud)
Editor : Amin Fauzie