Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Banjir Bengawan Solo Genangi Empat Kecamatan di Tuban, Terparah di Kanorejo Rengel

Andreyan (An) • Selasa, 12 Maret 2024 | 18:10 WIB
TERENDAM: Jalan penghubung antara Desa Kanorejo dan Desa Karangtinoto, Kecamatan Rengel terendam air luapan Sungai Bengawan Solo, Senin (11/3).
TERENDAM: Jalan penghubung antara Desa Kanorejo dan Desa Karangtinoto, Kecamatan Rengel terendam air luapan Sungai Bengawan Solo, Senin (11/3).

RADARTUBAN – Hujan deras yang mengguyur sejumlah wilayah dalam dua hari terakhir membuat membuat tinggi muka air (TMA) Bengawan Solo kembali naik, dan Senin (11/3) sore mendekati siaga kuning.

Pantauan Jawa Pos Radar Tuban, banjir kiriman air dari Bengawan Solo wilayah hulu itu sudah meluber —menggenangi lahan pertanian dan kawasan permukiman di sepanjang bantaran sungai terpanjang di Pulau Jawa tersebut.

Utamanya di Kecamatan Soko dan Rengel. Di Kecamatan Soko, satu desa sudah tergenang, yakni Desa Sandingrowo.

Sedangkan di Kecamatan Rengel, meliputi Desa Karangtinoto, Desa Kanorejo, Desa Tambakrejo, dan Desa Bulurejo.

Di area permukiman, ketinggian air rata-rata 30-60 sentimeter. Terdalam di Desa Kanorejo. Sedangkan ketinggian air yang menggenangi jalan rerata selutut orang dewasa.

Sehari sebelumnya, luberan avur akibat luapan Bengawan Solo juga menggenangi permukiman dan lahan pertanian di Kecamatan Plumpang dan Widang.

Ramlan, warga Desa Kanorejo menuturkan, luapan Sungai Bengawan Solo mulai menggenangi permukiman dan jalan penghubung antardesa pada dini hari.

‘’Dari dini hari tadi (Senin), ketinggian air terus meningkat,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Akibatnya, akses jalan di desa setempat hanya bisa dilintasi dengan jalan kaki. Sementara kendaraan roda dua dan empat yang memaksa melintas berpotensi mogok di tengah jalan.

‘’Ketinggian airnya ada yang sudah di atas mesin kendaraan. Sehingga sangat bahaya,’’ ujar Ramlan.

Sumartono, petani di Desa Bulurejo, Kecamatan Rengel hanya bisa pasrah menyusul luapan Sungai Bengawan Solo yang menggenangi seluruh sawahnya.

Padahal, dua pekan lagi memasuki musim tanam. Kondisi tersebut berpotensi memicu gagal panen.

‘’Kalau airnya tidak segera surut, hampir pasti gagal panen. Kalaupun panen, hasilnya juga tidak maksimal, tapi masih lumayan bisa panen,’’ katanya.

Lebih lanjut, pria berusia 54 tahun mengatakan, bencana banjir akibat luapan Bengawan Solo ini menjadi pukulan telak bagi para petani di desa setempat dan sekitarnya. Apalagi, saat ini sudah memasuki Ramadan dan sebentar lagi Lebaran.

‘’Hanya bisa pasrah,’’ tandasnya.

Terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban Sudarmadji mengaku sudah menerjunkan tim untuk melakukan tinjauan di lokasi terdampak banjir.

Hanya saja, dia belum dalam menyampaikan data lahan yang terendam banjir.

‘’Kami masih melakukan pendataan, belum bisa membeberkan hasilnya,’’ tandas dia. (an/tok)

Editor : Amin Fauzie
#Tuban #banjir #Bengawan Solo