TUBAN – Film horor Siksa Kubur dan Badarawuhi benar-benar menjadi magnet bioskop sejak dua pekan terakhir.
Film yang pertama kali rilis saat Lebaran itu akhir-akhir ini masih menjadi perbincangan banyak masyarakat, tanpa terkecuali warga Tuban.
Saking menariknya, kedua film itu seakan tak pernah kehabisan penonton. Sejak perdana tayang hingga kemarin (26/4), banyak masyarakat Kota Legen yang berbondong-bondong datang ke bioskop.
Staf kasir New Star Cineplex (NSC) Tuban Ratih Diah mengatakan, okupansi bioskop mengalami peningkatan berlipat ganda setelah dua film tersebut ditayangkan.
‘’Dari hari pertama tayang tiket selalu sold out,” ujarnya.
Ratih mengatakan, film Siksa Kubur dan Badarawuhi awal tayang saat lebaran atau 11 April 2024, hingga saat ini keduanya memiliki jumlah penonton yang sangat banyak.
‘’Keduanya sama-sama banyak yang suka, jumlah penonton sejak hari pertama tayang sama banyaknya,” bebernya.
Lebih lanjut Ratih menyampaikan, penonton Siksa Kubur dan Badarawuhi saat hari libur Idul Fitri masing-masing tembus 1.000 orang.
Sedangkan rerata kunjungan harian di angka 120-200 penonton.
‘’Satu hari enam kali penayangan, dan biasanya selalu full penonton,” jelasnya.
Menurut Ratih, alasan mengapa film Siksa Kubur dan Badarawuhi sangat populer di masyarakat karena masing-masing film memiliki daya tarik.
Apalagi, keduanya viral di media sosial karena mengundang rasa penasaran.
Seperti contoh film Siksa Kubur Siksa Kubur, garapan Joko Anwar ini dulunya juga menggarap film Pengabdi Setan yang pernah viral pada 2017.
‘’Jadi banyak yang penasaran dengan film Siksa Kubur karena garapan Joko Anwar,” kata Ratih.
Ratih juga membeberkan sedikit sinopsis tentang menceritakan perjalanan Sita yang diperankan Faradina Mufti.
Dia terperangkap dalam pencarian kebenaran terhadap eksistensi agama.
Dalam pencariannya, dia bertemu dengan orang yang dianggapnya paling kejam.
Sehingga memutuskan untuk menguburkan dirinya bersama jenazah orang tersebut.
Sementara Badarawuhi di Desa Penari merupakan lanjutan film KKN di Desa Penari.
Film tersebut juga sangat populer. Latar tempat sama persis, hanya point of view (POV) dari kisah Badarawuhi ini adalah sang penari siluman ular.
‘’Jadi melihat cerita yang sebelumnya juga ramai dan bagus, jadi banyak yang tertarik,” tandasnya. (zia/yud)
Editor : Muhammad Azlan Syah