Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Upaya Menghidupkan Komunitas Tamiya di Tuban. Tetap Eksis di Tengah Tsunami Game Online

Andreyan (An) • Jumat, 17 Mei 2024 | 14:30 WIB
MENJALANKAN HOBI: Komunitas Hore Arena Mini 4WD saat menggelar kompetisi tamiya di GOR Rangga Jaya Anoraga, Tuban.
MENJALANKAN HOBI: Komunitas Hore Arena Mini 4WD saat menggelar kompetisi tamiya di GOR Rangga Jaya Anoraga, Tuban.

RADARTUBAN - Kurang lebih hampir 30 tahun, Hendro Purwandito menjalankan hobi bermain tamiya. Meski telah me­ngin­jak usia 43 tahun diri­nya hingga saat ini masih kon­sisten meng­geluti dunia balap mai­nan dalam minia­tur lint­asan itu.

Ditemui siang itu, di depan teras ru­mah­nya, Gang Sade­wa, Ke­lurahan Lats­ari, Keca­matan Tu­ban, Dito—sapaan akrab Hendro Poerwandito—me­ngun­g­kapkan awal mula mene­kuni bermain tamiya semata-mata untuk media bermain—mene­mani kedua adiknya.

Dengan wajah murah se­nyum­nya, Dito menostalgia masa remaja bersama adik­nya.

‘’Dulu awalnya tidak punya media bermain de­ngan adik-adik saya, berkat tamiya yang membuat ke­dekatan saya dengan adik semakin erat,’’ kenangnya.

Saat menekuni hobi tamiya, Dito sempat mendapat tegu­ran dari sang ayah karena sem­pat mendengar kabar jika balap tamiya jadi ajang judi pada masa itu.

Meski sedikit mendapat pertenta­ngan, dirinya tetap me­ya­kinkan kedua orang tuanya bahwa hobi yang dijalaninya itu punya manfaat positif.

Singkat cerita, setelah lulus kuliah dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Dito memu­tus­­kan berpin­dah di Jakarta.

Hobi tamiya itu masih mem­bersamai kepindahan­nya di tanah rantau yang baru. ‘’Saat itu juga ikut ko­munitas ta­miya, namanya Op­rek­mini4WD.com,’’ tuturnya.

Setiap kali bolak balik pu­lang Tuban, pria yang saat ini be­kerja sebagai de­sainer itu selalu mem­bawa berbagai macam jenis mainan tamiya kepada adik­nya.

Bahkan, berkat ke­fa­natikannya ter­hadap hobi ter­sebut hingga mem­buat­nya membeli linta­san balap­nya.

Tepatnya di ta­hun 2015 dirinya mulai mem­bentuk komu­nitas ta­miya di Tuban yang diberi na­ma Hore Arena Mini 4WD.

Tiga tahun kemudian, te­patnya pada 2018, Dito me­mutuskan untuk menetap di Tuban dan mengembang­kan hobinya.

Mu­lanya, ko­munitas tersebut dihuni hampir sekitar 60 orang. ‘’Seka­rang ini yang aktif bermain ting­gal 30 orang saja,’’ jelasnya.

Meski sempat mengalami fase keluar masuk anggota, tak me­nyurutkan semangat­nya untuk terus mewadahi para pecinta mai­nan tamiya di depan rumah­nya.

‘’Akhir­nya saya sediakan tempat di depan rumah untuk para pecinta tamiya di Tuban,’’ ujarnya.

Hobi yang dijalaninya itu mendapat respon positif dari masyarakat, bahkan balap Mini 4WD sekarang sudah di­naungi oleh IMI (Ikatan Motor Indo­nesia) menjadi sa­lah satu cabang olahraga ekshibisi di PON Aceh dan Sumatra nanti.

“Seringkali banyak bapak-bapak yang mengajak anaknya bermain Tamiya, menciptakan keakra­ban antara ayah dan anak,“ ungkap alumni SMPN 3 Tuban itu. (an/tok)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#pon #hobi #lintasan #Sumatra #miniatur #imi #tamiya #aceh