Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Seni Bisa Mendekatkan Diri ke Masyarakat. Nita, Polwan di Tuban yang Hobi Menari

Annisa Dwi Kusuma Hany • Minggu, 19 Mei 2024 | 14:00 WIB

HOBI YANG MASIH DIJALANKAN: Nita, polwan yang juga aktif menjadi penari di sejumlah event.
HOBI YANG MASIH DIJALANKAN: Nita, polwan yang juga aktif menjadi penari di sejumlah event.

Selain menjalankan tugasnya sebagai polisi wanita, A’Yunin Ana Nuryunita, 28, memiliki rutinitas sebagai ibu rumah tangga (IRT) dan penari. Melalui menari, dia bisa mempererat hubungan dengan masyarakat dan menjalankan hobinya.

MENARI adalah seni sekaligus untuk melestarikan budaya. Saat dance modern sedang ngetren di kalangan anak muda, Nita sapaan akrab A’Yunin Ana Nuryunita memilih berbeda.

Polisi wanita ini justru memilih menggeluti seni tari tradisional. Hobinya itu sempat terasah saat masih kuliah di jurusan Sendratasik (Seni Tari Drama dan Musik) di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Sebelum memutuskan untuk menjadi bintara polisi, Nita sempat kuliah seni tari dua semester. Setelah itu mendaftar hingga diterima menjadi polwan.

Selama bekerja, dia mengaku sempat susah untuk dekat dengan masyarakat.

’’Lewat seni Alhamdulillah bisa lebih dekat dengan masyarakat untuk mendengar keluh kesah dari segi ekonomi, keamanan, maupun sosial,” ujar dia.

Meski sudah berkarir di profesinya, Nita tetap mendapatkan dukungan dari suami untuk menekuni hobinya di bidang kesenian tersebut.

’’Suami dan keluarga mendukung, karena masih sering dikasih kepercayaan untuk menjalani hobi menari di berbagai panggung,” jelas ibu anak satu itu.

Selain menjalani tugas dalam menjaga keamanan masyarakat dan memiliki kewajiban sebagai ibu rumah tangga, Nita masih sempat meluangkan waktu untuk latihan tari.

’’Pekerjaan rumah dan anak dibantu sama suami, kecuali masak. Karena aku hobi masak juga,” ujar anggota unit reskrim Polsek Soko itu.

Nita menegaskan, seni tari tradisional penting untuk mempertahankan identitas budaya. Dia mengaku prihatin, seni tari di zaman sekarang sering dianggap kurang penting dalam pendidikan formal.

Padahal melalui gerakan, ekspresi, dan kreativitas, siswa bisa menggali pemahaman lebih tentang budaya, sejarah, bahkan diri sendiri.

Sarjana hukum Universitas Sunan Bonang ini memberi saran agar sekolah, lembaga seni, dan pemerintah untuk mendukung program pendidikan seni tari yang agar lebih luas dan terjangkau.

’’Belajar dari pengalamanku dulu waktu kuliah tari, biayanya juga tidak murah untuk aku yang golongan menengah kebawah,’’ kenang dia.

Cara efektif untuk menggugah semangat pemuda dalam melestarikan kebudayaan, kata Nita, yaitu membangun rasa kebanggaan akan budaya dan warisan yang berharga. (han/yud)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#wanita #polwan #menari #seni #polisi #hobimotor