Minimnya kepedulian masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya, membuat hati Supriyanto, 39, tergerak untuk membentuk organisasi bank sampah. Dia mengenalkan organisasi peduli lingkungan itu kepada masyarakat di sekitar tempat tinggalnya di Desa Tangkis, Kecamatan Singgahan.
BERSAMA dengan pemuda-pemudi desa, pria yang akrab disapa Anto ini mulai membangun organisasi yang berorientasi peduli lingkungan.
Organisasi itu yang kini menjadi salah satu acuan pemerintah daerah dalam pengelolaan permasalahan sampah.
‘’Untuk menuntaskan permasalahan sampah, usaha sendiri tidak akan pernah selesai. Jadi harus usaha bersama-sama,” ujarnya.
Organisasi yang sudah dibentuk sejak 2019 ini memiliki nama yang unik, Koperasi Bank Sampah 2 R.
Awalnya akronim 2 R itu diambil dari nama anggotanya, Reni dan Rani. Merasa nama dua anggotanya itu unik, akhirnya nama tersebut diadopsi.
’’Dalam perjalanannya, 2 R itu kami ubah menjadi singkatan rumah resik,” kenang dia sambil tertawa.
Bank sampah yang diketuai oleh guru SDN Tanggulangin, Montong itu dimulai dengan jual beli sampah dan menabung barang rongsokan.
Dia menjelaskan, hal ini cukup efektif untuk mengelola sampah di lingkungan desanya. Dengan adanya program itu, membuat masyarakat terutama ibu-ibu mendapatkan uang serta menyadarkan pentingnya pengelolaan sampah.
‘’Jadi sampah itu bisa dijadikan uang. Bisa dijual ke kami, atau bisa ditabung. Nanti kalau sudah mencapai nominalnya berapa bisa diganti dengan sembako atau tukar pulsa listrik,” terangnya.
Pria kelahiran 1984 itu menyampaikan, pengelolaan sampah di organisasinya, didominasi kategori anorganik.
Sampah yang terdiri dari plastik, logam, kaca dan dan kertas itu lebih mudah untuk diolah kembali dan dijual.
‘’Sampah anorganik itu lebih mudah untuk dikelola dan dijual ke rongsokan,” kata dia.
Dari hasil penjualan sampah anorganik tersebut, Anto mendapatkan uang Rp 3 juta hingga Rp 4 juta per bulan.
Sedangkan untuk retribusi sampah, dia bisa memperoleh Rp 15 hingga Rp 20 juta per bulannya. Dari pendapatan tersebut, Anto dapat menggaji anggota koperasinya yang berjumlah 8 orang.
‘’Selain menjaga kebersihan lingkungan, juga mengentaskan kemiskinan di desa,’’ jelas dia.
Apalagi, anggota bank sampah yang sekitar 80 persen didominasi lulusan sekolah dasar (SD).
Tak puas hanya dengan langkah tersebut, lulusan Universitas Terbuka ini membuat program yang lebih beragam.
Seperti, sedekah sampah, pengambilan sampah saat event, serta beberapa kegiatan yang bekerja sama dengan beberapa instansi pemerintahan.
Dari keberhasilannya itu, kini dia juga sering wira-wiri untuk menjadi pembicara terkait pengelolaan sampah di Tuban.
‘’Saya sangat berharap masyarakat sudah lebih peduli kepada lingkungan. Jangan dengan mudah buang sampah, karena satu sampah bisa menjadi pekerjaan rumah kita bertahun-tahun lamanya,” tutup dia. (*/yud)
Editor : Muhammad Azlan Syah