Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Supriyanto, Pahlawan Sampah dari Tuban Selatan: Inisiatifnya Membersihkan Desa Hasilkan Puluhan Juta Rupiah

Hardiyati Budi Anggraeni • Senin, 24 Juni 2024 | 16:00 WIB

PEDULI: Kegiatan jual beli barang rongsok di Koperasi Bank Sampah Rumah Resik, Singgahan. Foto kiri, Supriyanto sang inisiator bank sampah
PEDULI: Kegiatan jual beli barang rongsok di Koperasi Bank Sampah Rumah Resik, Singgahan. Foto kiri, Supriyanto sang inisiator bank sampah

Minimnya kepedulian masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya, membuat hati Supriyanto, 39, tergerak untuk membentuk organisasi bank sampah. Dia mengenalkan organisasi peduli lingkungan itu kepada masyarakat di sekitar tempat tinggalnya di Desa Tangkis, Kecamatan Singgahan.

BERSAMA dengan pemu­da-pemudi desa, pria yang akrab disapa Anto ini mulai mem­bangun organisasi yang ber­orientasi peduli lingku­ngan.

Organisasi itu yang ki­ni menjadi salah satu acu­an pemerintah daerah dalam pengelolaan per­ma­salahan sampah.

‘’Untuk menuntas­kan permasalahan sampah, usaha sendiri tidak akan per­nah selesai. Jadi ha­rus usaha bersama-sama,” ujarnya.

Organisasi yang sudah diben­tuk sejak 2019 ini me­miliki nama yang unik, Ko­perasi Bank Sam­pah 2 R.

Awalnya akronim 2 R itu di­ambil dari nama anggo­tanya, Reni dan Rani. Merasa nama dua anggotanya itu unik, akhirnya nama tersebut diadopsi.

’’Dalam perja­lanan­nya, 2 R itu kami ubah menjadi singkatan rumah resik,” ke­nang dia sambil tertawa.

Bank sampah yang diketuai oleh guru SDN Tanggulangin, Montong itu dimulai dengan jual beli sampah dan mena­bung barang rongsokan.

Dia menjelaskan, hal ini cukup efektif untuk me­ngelola sam­pah di lingku­ngan desanya. Dengan ada­­nya program itu, mem­buat masyarakat terutama ibu-ibu mendapatkan uang serta menyadarkan penting­nya pengelolaan sampah.

‘’Jadi sampah itu bisa di­jadikan uang. Bisa dijual ke kami, atau bisa ditabung. Nanti kalau sudah mencapai nominalnya berapa bisa diganti dengan sembako atau tukar pulsa listrik,” terangnya.

Pria kelahiran 1984 itu me­nyampaikan, pengelolaan sam­­pah di organisasinya, di­do­minasi kategori anor­ganik.

Sampah yang terdiri dari plastik, logam, kaca dan dan kertas itu lebih mudah untuk diolah kembali dan dijual.

‘’Sampah anorganik itu lebih mudah untuk di­kelola dan dijual ke rong­sokan,” kata dia.

Dari hasil penjualan sam­pah anorganik tersebut, An­to men­dapatkan uang Rp 3 juta hingga Rp 4 juta per bulan.

Sedangkan untuk re­tribusi sampah, dia bisa memperoleh Rp 15 hingga Rp 20 juta per bulannya. Dari pendapatan tersebut, Anto da­pat menggaji anggota kope­rasinya yang berjumlah 8 orang.

‘’Selain menjaga ke­bersihan lingkungan, juga mengentaskan kemiskinan di desa,’’ jelas dia.

Apalagi, anggota bank sam­­pah yang sekitar 80 persen didominasi lulusan sekolah dasar (SD).

Tak puas hanya dengan langkah terse­but, lu­lusan Universitas Ter­­buka ini membuat pro­gram yang lebih beragam.

Seperti, se­dekah sampah, pengambilan sampah saat event, serta be­berapa kegia­tan yang bekerja sama dengan beberapa ins­tansi pemerintahan.

Dari keberhasilannya itu, kini dia juga sering wira-wiri untuk menjadi pembicara terkait pengelolaan sampah di Tuban.

‘’Saya sangat ber­harap ma­syarakat sudah lebih peduli kepada lingku­ngan. Jangan dengan mudah buang sam­pah, karena satu sampah bisa menjadi peker­jaan rumah kita bertahun-tahun lama­nya,” tutup dia. (*/yud)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#sampah #bank sampah #Kepedulian Masyarakat #puluhan juta #organisasi #peduli lingkungan