RADARTUBAN – DPC PKB Tuban tampaknya sedang kalut. Pasalnya, hingga saat ini belum ada satu pun figur yang serius maju sebagai bakal calon bupati dan wakil bupati (bacabup-bacawabup) dari PKB.
Sementara para sesepuh mendesak agar DPC PKB Tuban mengusung calon sendiri di Pilkada 2024 nanti.
Menanggapi desakan tersebut, Ketua DPC PKB Tuban M. Miyadi mengaku tidak mempersoal. Namun, tegas dia, tujuan pilkada adalah untuk menang. Sebab itu, kalkulasi politiknya harus realistis.
‘’Tidak bisa asal maju dan asal mencalonkan,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Pada pilkada 2011, misalnya. Ketika itu PKB mengusung pasangan bacabup-bacawabup KH Fathul Huda-Noor Nahar Hussein.
Kalkulasi politiknya saat itu, kekuatan PKB dan Golkar yang mengusung calon petahana cukup seimbang. Bahkan, probabilitas kemenangannya cukup tinggi.
Bagaimana dengan saat ini? Miyadi menjawab secara tegas bahwa potensi memenangi Pilkada 2024 cukup lemah.
Kecuali, tegas dia, figur yang diusung memiliki kualitas dan kapabilitas yang mumpuni. Dan tidak kalah penting adalah cost politik atau finansial.
Minimal mampu mengimbangi calon petahan. Dan secara tersirat, DPC PKB Tuban mengungkapkan bahwa yang mampu mengimbangi kekuatan calon petahana saat ini adalah trah Fathul Huda, Bupati Tuban periode 2011-2016/2016-2021.
‘’Kami terbuka, siapa saja—yang betul-betul serius ingin maju sebagai bacabup-bacawabup, DPC PKB Tuban siap mengusung. Tapi kami berharap, keluarga Pak Huda (Fathul Huda) juga dimunculkan,’’ terang Miyadi—yang seakan menegaskan bahwa kekuatan trah Fathul Huda masih sangat dibutuhkan PKB untuk bertarung di Pilkada 2024 melawan incumbent.
Siapa keluarga Fathul Huda yang dimaksud? Dari radar DPC PKB Tuban, ada dua nama “bani” Huda yang potensial diusung sebagai bacabup, yakni Fredy Ardlian Syah, putra sulung Fathul Huda, dan menantunya, Syafiq Syauqi.
Seperti diketahui, nama Fredy sudah tidak asing lagi di benak masyarakat Tuban. Pada Pilkada 2020 lalu, dia sempat berebut surat rekomendasi sebagai bacabup dari PKB.
Namun sayang, surat rekomendasi jatuh ke tangan Khozanah Hidayati yang berpasangan dengan Muhammad Anwar, tapi endingnya kalah.
Sementara Syafiq merupakan Ketua Pengurus Wilayah Gerakan Pemuda Ansor (PW GP) Ansor Jawa timur. Artinya, secara kapabilitas, keduanya telah memenuhi syarat.
Dan secara finansial sudah menjadi rahasia umum—bahwa keluarga Fathul Huda merupakan satu di antara orang terkaya di Bumi Ronggolawe.
Berangkat dari kalkulasi politik di atas, Miyadi hanya tersenyum ketika Fathul Huda menyodorkan nama KH Ahmad Damanhuri, Ketua PCNU Tuban dan Siti Syarofah, Ketua Muslimat NU Tuban sebagai pasangan bacabup-bacawabup untuk bertarung di pilkada 27 November mendatang.
Pernyataan tersebut disampaikan saat memberikan sambutan di acara pembukaan Konfercab ke-XX PC GP Ansor Tuban di Ma’had Bahrul Huda, Selasa (18/6) lalu.
‘’Kalau hanya melemparkan pernyataan (mendesak DPC PKB Tuban untuk mengusung pasangan calon sendiri dan menyodorkan nama, Red), tapi tidak ikut mengawal prosesnya, itu sama saja beliau tidak bertanggung jawab,’’ terang Miyadi yang seperti kembali menegaskan bahwa PKB masih sangat membutuhkan pengaruh Fathul Huda.
Tak pelak, desakan para sesepuh PKB ini membuat Miyadi dan jajarannya kalut. Sebab, sampai saat ini belum ada figur yang serius mencalonkan diri dari PKB, termasuk dari trah Fathul Huda.
Sementara pendaftaran pasangan bacabup-bacawabup semakin dekat. Tepatnya 27 Agustus nanti. (fud/tok)
Editor : Muhammad Azlan Syah