Buah hati adalah harta paling berharga bagi orang tua. Tidak ada orang tua yang rela menyerahkan anaknya kepada orang lain. Namun, seorang ibu muda asal Desa Jenggulo, Kecamatan Jenu terpaksa merelakan anaknya diadopsi orang lain, karena tidak mampu membayar biaya persalinan di rumah sakit.
KABAR kisah pilu seorang ibu itu dibenarkan oleh Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pemberdayaan Masyarakat, dan Desa (Dinsos P3APMD) Tuban Ismail.
Kasus bayi yang terpaksa ditinggal orang tuanya, karena tidak memiliki uang untuk membayar biaya persalinan itu terjadi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. R. Koesma Tuban.
’’Karena faktor ekonomi, sehingga orang tua si bayi tidak mampu membayar perawatan anak dan biaya operasi Caesar,’’ ujarnya saat ditemui wartawan koran ini di ruang kerjanya kemarin (3/6).
Ismail menceritakan, biaya persalinan di rumah sakit plat merah itu sebesar Rp 7,7 juta. Karena tidak ditanggung BPJS, maka seluruh biaya persalinan menjadi tanggung jawab pasien.
Dan malang nasib si bayi, kedua orang tuanya tidak mampu membawanya pulang sebelum biaya persalinan di lunasi.
’’Sudah dibantu dari dana CSR (corporate social responsibility) RSUD, tapi hanya Rp 2 juta. Sehingga masih kurang Rp 5,5 juta,’’ ujarnya.
Jangankan Rp 5,5 juta, sejuta saja mungkin mereka tidak punya.
Sehingga tidak ada cara lain yang bisa dilakukan, hingga akhirnya disampaikan ke dinas sosial.
Namun sayang, dinas sosial juga tidak bisa memberikan solusi.
Alasannya, tidak ada pos anggaran yang bisa dipakai untuk membantu keluarga miskin tersebut.
’’Pihak rumah sakit minta bantuan ke dinsos, tapi kami juga nggak ada dana itu (untuk membantu melunasi biaya persalinan, Red), karena dia (orang tua si bayi) masuknya pasien umum,’’ jelasnya.
Lebih lanjut, Ismail menjelaskan, ibu muda asal Desa Jenggolo, Kecamatan Jenu itu merupakan pasien umum, bukan dari pasien Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) maupun Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). ’
’Dia ngakunya pasien umum, sehingga harus bayar. Lain lagi kalau dia pasien dari BPJS dan Kartu Indonesia Sehat (KIS) dia bisa gratis,” tegas Ismail.
Pejabat lulusan Universitas Islam Malang (Unisma) itu menerangkan, sumber penghasilan sepasang kekasih itu berasal dari penjualan towak.
Orang tua yang aslinya dari Desa Mrutuk, Kecamatan Widang itu sudah memiliki seorang anak kecil.
’’Anak kedua yang akan diadopsi merupakan anak kesundulan, yang tidak direncanakan,” jelasnya.
Selama menjalani perawatan di rumah sakit, si bayi sempat diinkubator karena adanya permasalahan kesehatan.
’’Saat ini sudah memiliki calon orang tua asuh untuk pengabdopsiannya. Dan Alhamdulillah, biaya perawatan anak sudah selesai.
Biayanya diambilkan dari bantuan provinsi,’’ tandasnya. (han/tok)
Editor : Adib Turmudzi