RADARTUBAN – Fenomena titipan tenaga kesehatan (nakes) sukwan ternyata tidak hanya terjadi di lingkup puskesmas.
Di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. R. Koesma Tuban, fenomena yang sama juga terjadi. Bahkan terbilang lebih masif.
Salah satu nakes di RSUD Koesma Tuban yang enggan disebutkan namanya mengatakan, pada tahun ini, misalnya, ada puluhan nakes berstatus sukwan yang dititipkan di RSUD Koesma.
’’Tenaga sukwan itu mayoritas dititipkan oleh mereka yang memiliki saudara atau relasi di rumah sakit,’’ ungkapnya, atau dalam arti memiliki ”orang dalam”.
Diceritakan dia, fenomena nakes titipan ini terjadi hampir saban tahun.
Bahkan, karena saking seringnya, kini jumlah nakes sukwan itu hampir menempati semua posisi pelayan di rumah sakit—dari tenaga teknis hingga dokter.
Awalnya, terang sumber terpercaya Jawa Pos Radar Tuban ini, mereka dibawa oleh saudara atau keluarga yang memiliki koneksi di rumah sakit dengan alasan magang.
Namun, lama-lama dijadikan tenaga sukwan.
’’Setelah menjadi tenaga sukwan, lalu minta seragam, setelah itu minta gaji, semakin lama lagi minta jaspel (jasa pelayanan) seperti nakes lain yang berstatus PNS atau PPPK.
Dan yang membuat kita kesal, baru-baru ini minta agar bisa ikut seleksi PPPK layaknya nakes yang sudah berstatus honorer,’’ ujarnya turut kesal.
Lebih lanjut dia menyampaikan, fenomena tenaga sukwan jalur titipan ini sangat menyebalkan. Sebab, mereka yang awal niatnya terpenting menjadi tenaga sukwan di RSUD, kini semakin ngelunjak.
’’Permintaannya aneh-aneh hingga minta disamakan seperti tenaga honorer,’’ keluhnya.
Masih kata sumber tersebut, karena bekerja di rumah sakit lewat jalur titipan, tak jarang para sukwan itu bekerja ala kadarnya.
Sehingga mereka ini cenderung sering memberi pelayanan dan perlakuan kurang baik terhadap pasien dan keluarganya.
Sehingga pelayanan RSUD kerap mendapat cap negatif dari masyarakat.
’’Padahal, kami yang nakes dari jalur seleksi ketat ini niat bekerja sungguh-sunGguh,’’ ungkap dia.
Dikonfirmasi Jawa Pos Radar Tuban, Direktur RSUD Koesma Tuban Mohammad Masyhudi membantah adanya tenaga sukwan di rumah sakit pelat merah yang dipimpinnya tersebut.
’’Untuk tenaga sukarelawan tidak ada,’’ tegas Masyhudi—sapaan akrabnya. (han/tok)
Editor : Adib Turmudzi