Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Ketua Komisi IV DPRD: Orang Tua Bayi Tidak Mampu Merawat, Alasan Seorang Ibu Melahirkan di RSUD yang Merelakan Anaknya Diadopsi Orang Lain

Annisa Dwi Kusuma Hany • Jumat, 5 Juli 2024 | 20:25 WIB

Photo
Photo

 

RADARTUBAN – Kisah pilu seorang ibu asal domisili Desa Jenggolo, Kecamatan Jenu yang merelakan anaknya diadopsi orang lain, karena tidak mampu membayar biaya persalinan di RSUD Tuban dan biaya hidup si bayi patut menjadi atensi bersama.

Terlebih, alasan mendasar dari kisah pilu ini adalah administratif dan faktor kemiskinan.

Sebagaimana diketahui, karena faktor administrasi—tidak masuk dalam data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS) atau data keluarga tidak mampu, sehingga yang bersangkutan tidak bisa dikaver menggunakan bantuan sosial seperti BPJS atau KIS. Pun dengan si bayi.

Terpaksa diadopsi orang lain karena si orang tua merasa tidak mampu untuk menghidupinya.

Fakta tersebut disampaikan oleh Ketua Komisi IV DPRD Tuban Tri Astuti.

Tutik—sapaan akrabnya—mengungkapkan, pasca pemberitaan kisah pilu seorang ibu dan bayinya tersebut, dia langsung melakukan klarifikasi ke Dinas Kesehatan, Pengendalian Pendiduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Tuban.

Hasilnya, pihak dinkes mengungkapkan bahwa sejak usia kandungan menginjak dua bulan, si orang tua sudah menawarkan kepada orang lain untuk mengadopsi anaknya.

‘’Alasannya, karena sudah memiliki anak yang usianya baru 1,5 tahun, sehingga dia (orang tua si bayi) tidak mampu untuk merawat,’’ ujar Tutik meneruskan jawaban pihak dinkes usai dikonfirmasi dirinya.

Lebih lanjut, dinkes juga mengklaim bahwa persoalan biaya persalinan si ibu dan bayinya di RSUD Tuban telah dikaver oleh provinsi melalui pembiayaan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin (biakes-maskin).

‘’(Menurut dinkes, Red) dari awal masuk rumah sakit sudah diajukan lewat biakes-maskin,’’ terang politisi Partai Gerindra itu.

Ihwal adopsi, terang Tutik, sudah ada yang siap menjadi orang tua angkat. Hanya saja, prosesnya belum selesai.

‘’Saat ini masih proses wawancara dan lain-lain oleh dinsos,’’ katanya sebagaimana laporan yang diterima.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pemberdayaan Masyarakat, dan Desa (Dinsos P3APMD) Tuban Ismail membenarkan bahwa ada seorang ibu yang kesulitan membayar biaya persalinan caesar di RSUD Tuban dan merelakan anaknya diadopsi orang lain karena tidak memiliki biaya untuk menghidupinya.

Ismail menceritakan, biaya persalinan di rumah sakit plat merah itu sebesar Rp 7,7 juta.

Karena tidak masuk DTKS, sehingga seluruh biaya rumah sakit ditanggung mandiri. Upaya untuk meminta keringanan sudah dilakukan.

Namun, pihak RSUD hanya bisa membantu Rp 2 juta. Alasannya, aturan dana CSR (corporate social responsibility) RSUD maksimal Rp 2 juta per pasien. Sehingga masih ada tunggakan Rp 5,5 juta.

Selanjutnya, permasalahan ini disampaikan ke dinas sosial dengan harapan bisa dibantu menggunakan dana sosial.

Namun sayang, dinas sosial juga tidak bisa memberikan solusi.

Alasannya, si keluarga miskin itu tidak masuk DTKS.

Sehingga tidak ada pos anggaran yang bisa dipakai untuk mengkaver biaya perawatan si ibu dan bayinya di rumah sakit. (fud/tok)

Editor : Adib Turmudzi
#Tuban #rsud tuban #RSUD Koesma Tuban #kesehatan #rsud #persalinan