Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Di Balik Wisata Goa Nglirip di Desa Guwoterus, Kecamatan Montong, Tersimpan Sumber Mata Air untuk Kelangsungan Hidup Manusia

M. Mahfudz Muntaha • Senin, 8 Juli 2024 | 19:00 WIB

Lokasi dalam Gua Nglirip yang memiliki ruag besar dengan panjang sekitar 1 kilometer.
Lokasi dalam Gua Nglirip yang memiliki ruag besar dengan panjang sekitar 1 kilometer.

 

Gua Nglirip lebih banyak dikenal sebagai tempat wisata. Namun, di balik keeksotisannya, gua di kawasan hutan lindung seluas kurang lebih 3 hektare ini merupakan cagar alam yang memiliki peran penting dalam kelangsungan hidup manusia. Yakni, salah satu titik sumber mata air terbesar di Tuban.

 

LOKASI wisata yang ditetapkan sebagai cagar alam berdasar SK Gubernur Hindia Belanda Nomor: 6 Stbl.90 pada 1919 ini terletak di Desa Guwoterus, Kecamatan Montong. Tepatnya, berbatasan dengan kawasan hutan produksi Perum Perhutani BKPH Wono Agung, KPH Parengan.

Jika ditempuh dari pusat pemerintah Kabupaten Tuban, jaraknya sekitar 31 kilometer (km) ke arah barat daya—dengan jarak tempuh kurang lebih 43 menit.

Sesampainya di jalan raya Montong-Singgahan. Persisnya di BKPH Wono Agung KPH Parengan.

Untuk masuk ke lokasi wisata, pengunjung harus melewati jalan tanah kurang lebih 200 meter ke arah selatan—masuk kawasan hutan.

Sepanjang jalan masih dipenuhi semak-semak dan pepohonan yang rimbun dan teduh.

Setelah sampai di pos jaga milik Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur, mulut gua mulai tampak.

Sepintas, dari luar tampak sempit.

Namun, suasana jembar langsung terasa ketika masuk ke dalam. Hanya saja, tidak mudah menyusuri gua yang menyimpan banyak cerita legenda ini.

Setelah melewati mulut gua, pengunjung harus turun ke jurang dengan kedalaman sekitar 10 meter.

Kondisinya pun gelap. Sehingga tidak direkomendasi masuk sendiri. Harus ada tim pendamping profesional.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan kepada Jawa Pos Radar Tuban mengatakan, wilayah cagar alam Gua Nglirip ini totalnya 3 hektare.

Dimulai dari pintu masuk hingga ujung gua.

‘’Semua lahan ini milik BBKSDA Jatim, meskipun lokasinya berada di tengah wilayah perhutani. Untuk panjang gua antara satu mulut ke satu mulut lainnya memiliki panjang sekitar 1 km,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Meski memiliki wilayah yang tak terlalu luas, tapi gua ini dinyatakan sebagai cagar alam. Alasannya, gua ini memiliki peran penting—sebagai sumber mata air di wilayah Kabupaten Tuban.

‘’Gua Nglirip ini merupakan keran mata air di Tuban,’’ bebernya.

Selain itu, lanjut Patria, di dalam Gua Nglirip ini juga menjadi tempat hidup dan berkembangnya berbagai macam satwa.

‘’Makanya, tugas kami ini untuk menjaga agar cagar alam ini selalu terjaga dan tidak ada yang merusak,’’ bebernya.

Disampaikan dia, jika cagar alam ini Gua Nglirip ini rusak, maka dampaknya cukup besar.

Dan, salah satu paling dikhawatirkan, adalah dampak kekeringan yang berpotensi menjalar hingga seluruh wilayah Kabupaten Tuban.

‘’Inilah alasan pentingnya menjaga kelestarian cagar alam di Gua Nglirip. Sebab jika rusak, dampaknya sangat besar,’’ tegasnya.

Kepala Resort Konservasi Wilayah 04 Bojonegoro BBKSDA Jawa Timur Ekhsan menambahkan, dirinya yang pernah masuk gua sebanyak tiga kali mengaku sering menemui banyak satwa di dalam.

Seperti ular kobra, ular piton, dan tentunya ribuan kelelawar.

‘’Saya juga sempat menemui satwa liar seperti landak Jawa,’’ bebernya.  

Lebih lanjut dia menyampaikan, panjang gua yang telah disusuri kurang lebih 1 km.

Tinggi dan lebar gua bervariatif. Dari rata-rata 5 meter hingga 15 meter. Sehingga tidak perlu menunduk.

‘’Di dalam gua banyak terdapat genangan air, karena sumber air dari stalaktit dan stalakmitnya cukup deras,’’ imbuhnya. (*/tok)

Editor : Adib Turmudzi
#wisata #Tuban #penemuan #nglirip #gua