RADARTUBAN – Meski Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi Tuban bakal menghadapi kemarau basah, tak membuat droping air dihentikan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban tetap menyiapkan distribusi air di sejumlah kecamatan yang berpotensi kekeringan.
Kepala Pelaksana BPBD Tuban Sudarmaji membenarkan bahwa Tuban akan mengalami kemarau basah dan diprediksi kekeringan tidak separah seperti tahun lalu.
Sehingga proses distribusi air bersih masih menunggu laporan pengajuan kekeringan.
‘’Terdapat 34 desa di 14 kecamatan yang rawan mengalami kekeringan,’’ tutur dia.
Pejabat lulusan Doktor Ilmu Sosiologi Universitas Brawijaya (UB) Malang ini mengatakan, meski belum ada laporan kekeringan, tim BPBD sudah merencanakan droping air akan dimulai pekan depan.
Umumnya dalam satu desa hanya satu hingga dua RT yang terdampak kekeringan.
’’Apabila ada wilayah yang sangat membutuhkan pasokan air, maka segera kami droping,’’ tegas Darmaji.
Secara terpisah, Kepala BMKG Tuban Zem Irianto Padama menjelaskan, dalam mengatasi kekeringan dilakukan kolaborasi secara multisektoral.
Misalnya, kerjasama dengan BPBD dalam monitoring dan pemantauan informasi hujan.
’’Tapi saat ini kami belum mendapatkan laporan data kekeringan,’’ jelasnya.
Mantan Kepala Seksi Observasi BMKG Juanda ini menambahkan, penyebab terjadinya hujan di musim kemarau bukan karena hujan buatan saja.
Namun, kehadiran MJO (Madden-Julian Oscillation), yakni kumpulan awan yang bergerak dari barat ke timur juga bisa menyebabkan hujan meskipun kemarau.
Selain itu, adanya kondisi netral perpindahan El Nino dan El Nina, yang memungkinkan terjadi hujan sehingga mengurangi dampak kekeringan.
’’Prediksi BMKG biasanya di bulan September hingga Oktober masih kekeringan,’’ tutur dia. (han/yud)
Editor : Muhammad Azlan Syah