RADARTUBAN – Hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMAN 1 Soko senin (15/7) terasa spesial.
Selain diisi dengan berbagai kegiatan menyenangkan. Momen orientasi siswa baru tersebut juga menghadirkan tradisi yang patut menjadi teladan bersama.
Yakni, prosesi penyerahan anak dari orang tua/wali murid kepada sekolah untuk dibimbing dan dididik menjadi generasi unggul dan memiliki budi pekerti luhur.
Momen spesial itu semakin haru ketika para siswa melaksanakan bakti sadhana atau sungkem kepada orang tua—sebagai tanda meminta restu dalam mencari ilmu.
Setiap peserta didik juga diminta menuliskan cita-citanya yang kemudian disampaikan kepada orang tua masing-masing.
Tidak sedikit orang tua dan guru berlinang air mata melihat momen penuh haru tersebut.
Berharap agar apa yang dicita-citakan anak terkabul.
Kepala SMAN 1 Soko Sumarni, SP. MPd mengatakan, tujuan dari proses penyerahan siswa dan bakti sadhana ini agar orang tua/wali murid benar-benar percaya sepenuhnya SMAN 1 Soko untuk mendidik siswa-siswi dengan sebaik mungkin.
‘’Harapannya, dengan prosesi penyerahan anak dari orang tua kepada sekolah ini, kami bisa mendidik anak-anak dengan baik hingga lulus nanti, dan bisa meneruskan pendidikan yang lebih tinggi lagi,’’ ujarnya.
Marni berharap, dari 252 siswa baru SMAN 1 Soko ini menjadi generasi unggul dan memiliki akhlak mulia.
Dan kelak setelah lulus dari SMAN 1 Soko bisa melanjutkan pendidikan di berbagai perguruan tinggi terbaik. Sebab, dirinya prihatin dengan tingginya angka stunting akibat pernikahan dini.
Termasuk di Kecamatan Seko.
‘’Karena itu, kami berharap anak-anak bisa terus melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi dan meraih kesuksesan,’’ tuturnya mengajak
Ditegaskan Marni, setiap peserta didik harus memiliki mindset bahwa hidup bukan hanya soal menikah saja.
Tapi harus memiliki cita-cita yang tinggi.
Dan cita-cita itu bisa tercapai dengan terus melanjutkan pendidikan.
Mantan guru SMK Muhammadiyah 5 Babat itu melanjutkan, ketika anak memiliki mindset untuk terus belajar, dia meyakini, setiap lembaga pendidikan bisa menjadi pilot project untuk menanggulangi pernikahan dini dan angka stunting.
Dengan begitu, setiap anak memiliki masa depan yang panjang.
‘’Mereka datang dengan bahagia, ikut pembelajaran dengan bahagia, lulus dengan bahagia, dan nantinya menemukan versi terbaik dalam hidupnya, dan itu kami konsep mulai sejak MPLS ini,’’ ujarnya.
Marni menambahkan, kegiatan MPLS di SMAN 1 Soko ini akan dilaksanakan selama tiga hari, dan setiap harinya akan diisi dengan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan dan mengedukasi.
‘’Dimulai dari MPLS ini, SMAN 1 Soko akan mengedepankan pendidikan yang beretika dan disiplin,’’ tandasnya.
Pada MPLS hari pertama tersebut juga dilaksanakan penandatanganan pakta integritas MPLS ramah anak, stop bullying dan MPLS menyenangkan antara pihak sekolah dan jajaran Forkopimca Soko. (fud/tok)