Sejak satu dekade terakhir, SDN Sukolilo I selalu mendapat siswa baru kurang dari lima anak. Minimnya pendaftar di sekolah yang terletak di kawasan kota itu salah satunya dipicu sering diisukan bakal ditutup.
CUKUP mudah menemukan sekolah ini. Lokasinya di Jalan Panglima Sudirman nomor 94, Tuban.
Persis pinggir jalan di sisi utara, berdekatan dengan kantor kelurahan setempat.
Seperti sekolah pada umumnya, lembaga pendidikan bertembok kuning ini memiliki fasilitas yang cukup memadai untuk menggelar kegiatan belajar mengajar.
Fasilitas sekolah ini cukup lengkap. Memiliki luas lahan sekitar 475 meter persegi dengan tiga ruang kelas yang ukurannya cukup luas.
Selain itu, juga memiliki prasarana lain, seperti lapangan olahraga, ruang guru, dan area parkir.
Saat memasuki gerbang sekolah pada hari kedua masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) Selasa (16/7), terlihat siswa duduk di halaman kelas dengan memakai seragam olahraga.
Saat wartawan koran ini masuk ke sekolah tersebut, sontak satu per satu siswa langsung menghampiri dengan santun sambil jabat tangan dan mengucap salam.
Dari ruang guru muncul seorang pendidik berseragam abu-abu. Dia adalah Dewi Pusporini Maysari, Plt Kepala SDN Sukolilo I.
Setelah memperkenalkan diri, pendidik yang akrab disapa Dewi itu langsung bercerita banyak tentang sekolah.
’’Perjuangan guru disini tidak hanya mengajar, tapi juga mencari dana dan siswa agar mau sekolah di sini,’’ kata dia.
Sejak diterpa isu bakal ditutup belasan tahun lalu, kondisi SDN Sukolilo I berubah 180 derajat. Sekolah yang dulunya ramai pendaftar, mendadak sepi.
Hingga kini total hanya ada 17 anak. Dengan rincian kelas I dua siswa, kelas II empat siswa, kelas III dua siswa, kelas IV dua siswa, kelas V tiga siswa, dan kelas VI empat siswa.
Kabar bohong terkait ditutupnya SDN Sukolilo I itu berembus cepat. Banyak masyarakat yang memercayai. Sehingga orang tua takut menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan yang lokasinya di tengah kawasan padat penduduk itu.
’’Bertahun-tahun guru di sini meluruskan kabar bohong tersebut agar tidak dipercaya masyarakat,’’ tuturnya.
Untuk kembali menarik kepercayaan masyarakat, sering kali guru iuran untuk memenuhi kebutuhan siswa.
Tidak sedikit donatur juga ikut menyumbang. Sehingga siswa tertarik masuk di sekolah tersebut karena mendapatkan seragam, buku, tas, alat tulis, hingga sembako.
’’Bahkan, diusahakan untuk mendapatkan Program Indonesia Pintar (PIP),’’ terang dia. (*/yud-bersambung)
Editor : Yudha Satria Aditama