RADARTUBAN – Beberapa hari ini, suhu udara saat malam terasa sangat dingin hingga menusuk tulang. Namun, ketika siang terasa terik.
Orang Jawa menyebutnya bediding.
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tuban, suhu dingin di tengah musim kemarau ini bakal berlanjut hingga puncak kemarau pada Agustus nanti.
‘’Tapi suhu dingin ini adalah hal normal. Fenomena biasa setiap musim kemarau atau menjelang puncak kemarau,’’ kata Kepala BMKG Tuban Zem Irianto Padama kepada Jawa Pos Radar Tuban kemarin (16/7).
Di Tuban, terang Zem, suhu udara yang dingin ini masih terbilang normal.
Lantaran hanya berkisaran 21-25 derajat. ‘’Ini sangat umum terjadi,” katanya.
Mantan Kasubid Pelayanan BMKG Juanda itu mengungkapkan, suhu dingin ini bakal berlangsung hingga Agustus, namun sedikit banyak masih akan dirasakan sampai September.
Lebih lanjut, Zem menjelaskan, suhu dingin yang terjadi di Tuban ini bukan disebabkan oleh fenomena Aphelion.
Namun, dikarenakan angin Muson Australia yang sedang bertiup ke benua Asia, termasuk Indonesia.
Selain itu, perairan Samudra Hindia memiliki suhu permukaan laut yang relatif lebih dingin.
Sehingga, suhu udara akhirnya ikut menjadi lebih dingin.
‘’Suhu dingin ini dikarenakan ada angin Muson Australia, bukan karena ada fenomena Aphelion,’’ ungkap pria kelahiran Papua tersebut.
Zem menambahkan, suhu dingin ini hanya terjadi saat malam. Sementara saat siang, cuaca terasa terik.
‘’Suhu panas ini disebabkan oleh kondisi langit yang tanpa awan.
Sinar matahari secara langsung sampai ke permukaan bumi tanpa ditahan oleh awan.
Kondisi ini dinamakan clear sky,” pungkasnya. (gi/tok)
Editor : Ahmad Atho’illah