Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Upaya Sanggar Pemuda Bergerak Plumpang Menghidupkan Kembali Permainan Tradisional

Annisa Dwi Kusuma Hany • Senin, 29 Juli 2024 | 15:05 WIB

 

MELESTARIKAN BUDAYA: Sekelompok anak-anak Sanggar Pemuda Bergerak saat menampilkan festival jaranan nusantara, Sabtu (20/7).
MELESTARIKAN BUDAYA: Sekelompok anak-anak Sanggar Pemuda Bergerak saat menampilkan festival jaranan nusantara, Sabtu (20/7).

Di era kiwari ini, permainan tradisional kian terpinggirkan dihantam kemajuan teknologi. Anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan perangkat elektronik, hingga lupa dengan tradisi bangsa sendiri.

ANNISA DWI KUSUMA HANY, Tuban

BERANGKAT dari kegelisaan tersebut, Sanggar Pemuda Bergerak Plumpang tergerak untuk kembali menghidupkan permainan tradisional yang terancam hilang.

Upaya yang tidak mudah itu diaktualisasikan melalui Festival Jaranan Nusantara yang digelar Sabtu (20/7) pekan lalu, di Lapangan Sumur Kulon kecamatan setempat.

Sempat pesimistis di tengah tantangan modernisasi teknologi yang semakin tak terkendali, festival yang digelar memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2024 itu diikuti kurang lebih 1.300 anak.

Rinciannya, 675 anak dari taman kanak-kanak (TK) dan 625 anak dari jenjang sekolah dasar (SD). ‘’Festival Jaranan Nusantara ini bak oase di tengah derasnya hantaman game modern.

Dan, ternyata asa (untuk menghidupkan kembali permainan tradisional, Red) itu masih ada,’’ Ketua Sanggar Pemuda Bergerak Bambang Boediono kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Dituturkan Bambang, Festival Jaranan Nusantara ini hadir untuk mengenalkan kembali budaya Indonesia yang terancam dilupakan dan hilang.

‘’Meskipun anak-anak tidak bermain (baca: permainan tradisional) setiap hari, minimal mereka mengetahui dan mengenal budaya daerah asalnya. Inilah upaya yang kita lakukan agar permainan tradisional tidak hilang,’’ ujarnya.

Dan, jaranan adalah satu dari sekian permainan tradisional yang mulai dilupakan.

Tak hanya dikenalkan, anak-anak juga diajak untuk membuat dan mempraktikan langsung kesenian yang sudah ada sejak zaman Hindu-Buddha tersebut.

Harapannya, mereka bisa menjadi bagian dari generasi yang memiliki kepedulian terhadap tradisi bangsa sendiri.

‘’Melihat anak-anak yang turut serta dalam festival ini, kami melihat masih ada harapan untuk mengenalkan permainan tradisional kepada anak-anak. Dan semoga semangat dalam mempertahankan dan melestarikan tradisi ini menjadi kesadaran kita bersama,’’ tutur pendidik SD Pusaka Tuban itu.

Lebih lanjut dia berharap, ada kolaborasi dengan lembaga/instansi pemerintah dalam menguri-uri permainan tradisional. Syukur-syukur, permainan tradisional ini menjadi bagian dari kegiatan sekolah.

‘’Dibutuhkan kesadaran bersama untuk kembali menghidupan permainan tradisional yang menjadi ciri khas bangsa ini,’’ tandasnya. (*/tok)

 

Editor : Yudha Satria Aditama
#plumpang #Sanggar #Hari Anak Nasional (HAN)