Terlahir sebagai laki-laki yang suka menari, Yoga Dimas Ariansyah, 19, sering mendapatkan olokan dari temannya. Itu lantaran masih banyak menganggap bahwa menari hanya untuk perempuan. Namun, kini dia bisa membuktikan bahwa menari bisa membawanya menuju kesuksesan.
HARDIYATI BUDI ANGGRAENI, TUBAN
YOGA—sapaan akrabnya—sempat meninggalkan hobinya setelah sering mendapat bully oleh teman-temannya.
Stigma bahwa menari hanya untuk perempuan menjadikan dia sering dipanggil banci. Kendati sudah meninggalkan dunia tari, namun dia tak juga memiliki teman semasa sekolah.
‘’Sempat tidak punya teman sama sekali. Banyak yang takut untuk berteman sama saya,” terang dia.
Selepas lulus SMA, dia mendapat informasi adanya kompetisi Duta Tari Kabupaten Tuban. Tidak ada sanggar di daerahnya, tak menyurutkan semangatnya untuk kembali menari.
Hanya bermodalkan video dari Youtube, dia tekun untuk mempelajari berbagai jenis tarian.
‘’Di Montong tidak ada sanggar, kalau mau ke Tuban jauh. Jadi, hanya pakai Youtube untuk belajar,” ungkapnya.
Perjalanannya menjadi Duta Tari Kabupaten Tuban cukup berliku.
Yoga sempat menyewa baju dengan harga Rp 150 ribu.
Dan uangnya hanya cukup untuk menyewa kostum Tari Glipang. Sehingga, untuk make-up dia harus melakukannya sendiri.
‘’Modalnya hanya Rp 150 ribu saat itu, jadi make-up pun saya otodidak,” ujarnya.
Kendati memiliki kekurangan, namun pria kelahiran 2004 itu tetap menunjukkan bakatnya di depan juri.
Tari Glipang dari Probolinggo yang mengandung unsur pencak silat dan menggambarkan sosok pahlawan, sukses dibawakan oleh dirinya.
‘’Saya yakin punya keunggulan yang tidak semua orang punya,” katanya.
Tekad dan semangatnya pun membuahkan hasil.
Dia berhasil menjadi Duta Tari Kabupaten Tuban dan turut menjadi delegasi perwakilan Tuban ke provinsi.
Ketika terpilih menjadi delegasi, perjuangannya pun lebih landai dari sebelumnya.
Banyak orang akhirnya membantu ketika persiapan menuju kompetisi provinsi tersebut.
Hingga akhirnya dia berhasil menjadi juara 1 Putera Tari Jawa Timur 2024.
Pria asal Montong tersebut mengungkapkan, dia ingin membuktikan bahwa menari tidak hanya dikhususkan untuk perempuan saja.
Tetapi laki-laki juga berhak untuk melakukannya juga.
Menari bisa dilakukan untuk semua gender, karena tari adalah tradisi Indonesia.
‘’Tari itu bukan hanya diperuntukkan untuk wanita, melainkan semua gender bisa mendalami dan melestarikannya,” pungkas Yoga. (*/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama