Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Radar Movie: Ayla The Daughter of War - Perjalanan Haru Tentara Turki dan Anak Angkatnya

Hardiyati Budi Anggraeni • Rabu, 14 Agustus 2024 | 14:00 WIB
Cuplikan Film Ayla The Daughter War
Cuplikan Film Ayla The Daughter War

RADARTUBAN - Ayla The Daughter of War menjelaskan cerita berlatar belakang tahun 1950. Penduduk Korea Se­latan terlihat bahagia dan tentram. Namun sayangnya, keba­ha­giaan tersebut tidak berlang­sung lama.

Lantaran, tentara Korea Utara melaku­kan pe­peragan karena ingin merebut daerah tersebut men­jadi miliknya.

Kondisi ini me­ngun­dang prihatin banyak negara, termasuk Turki.

Kegentingan itu membuat Turki mengirimkan tentara terbaiknya untuk ikut dalam satuan komando perdamai­an PBB.

Süleyman Dilbirligi men­jadi salah satu dari se­kian ba­nyak tentara Turki yang dikirim­kan ke Korea Selatan.

Perja­lananya pun dimulai, setelah beberapa hari di sana, dia tak mene­mu­kan penyerangan apa pun.

Sehingga, mengang­gap musuh telah mundur dan perang akan segera berakhir.

Namun, hal itu hanyalah isapan jempol belaka. Pasal­nya, tiba-tiba camp mereka diserang dengan pasukan tem­pur.

Süleyman pun me­minta bantuan kepada camp lainnya. Di tengah perjala­nan, dia menemukan gadis kecil yang menangis disam­ping mayat orang tuanya. Me­rasa tak sampai hati, Sü­­leyman membawa gadis itu.

Meski mendapat tenta­ngan dari beberapa orang, tapi dia tetap pada pen­diriannya. Dia pun membe­rinya nama Ayla yang berarti bulan purnama.

Seiring dengan berjalannya waktu, Ayla tampak terbiasa dengan kehadiran Süleyman. Interaksi keduanya mencip­takan sebuah ikatan batin yang erat.

Rasa kasihan yang semula dirasakan Süleyman, berubah menjadi cinta kasih tulus. Seperti seorang ayah kandung kepada anaknya, Süleyman juga mulai menga­jarkan bahasa Turki kepada Ayla.

Sayangnya, kebersamaan me­reka tak bisa berlangsung lama. Pada tahun 1951 Sü­leyman harus kembali ke ne­garanya.

Namun, dia tak dapat membawa Ayla bersa­manya. Mengerti akan kon­disi Süle­yman yang meng­khawatirkan Ayla, koman­dannya menyaran­kan untuk menye­kolah­kan anak asuh­nya tersebut ke sekolah khu­­sus korban pe­perangan.

Seakan tahu bahwa dia akan ditinggalkan oleh sang ayah, Ayla selalu ingin dekat de­ngan Süleyman.

Perintah untuk kembali ke Turki sudah Süleyman da­patkan. Tak ingin mening­gal­kan Ayla, dia pun nekat tetap membawa­nya ke Turki. De­ngan cara, me­masukkan­nya ke dalam koper yang sudah dimodifikasi.

Tetapi rencananya gagal, karena semua barang bawaannya diperiksa sebelum pener­bangan. Hal ini menjadi hari terakhir pertemuan antara Süleyman dan Ayla.

Kehidupan mereka pun berlanjut, sejak tiba di Turki, Süleyman memutuskan untuk menikahi wanita yang dijo­doh­kan dengannya.

Se­dang­kan Nuran sudah me­nikah dengan orang lain, lan­taran tak sanggup me­nung­gu Süleyman.

Tak sehari pun Süleyman tanpa mencari Ayla. Berbagai usaha dia lakukan untuk kembali bertemu dengan anak sambungnya.

Namun hal ter­sebut tak pernah dia dapatkan jawabannya. Kesa­baran Sü­leyman akhirnya berbuah manis. Dalam ku­run 60 tahun, melalui ban­tuan stasiun te­levisi.

Süley­man akhirnya bisa bertemu dengan Ayla. Gadis kecilnya yang sudah dia anggap se­bagai anak sendiri.

Film ini diangkat dari kisah nyata, seorang tentara Turki yang menemukan seorang anak kecil saat peperangan Korea Selatan.

Disutradarai oleh Can Ulkay melalui pe­nulis Yigit Güralp dikemas dengan begitu apik. Mereka berhasil menemu­kan pe­main yang bisa memeran­kan Ayla dan Süleyman dengan sangat baik.

Penonton sepeti dibuat naik roller coaster selama me­non­ton. Bagaimana per­jala­nan senang, sedih Ayla dan Süley­man.

Yang kemu­dian diakhir dengan pera­saan haru yang dipertonton­kan pada film ini.

Film yang bergenre drama, sejarah, biografi ini membuat penonton bak sedang me­naiki roler coaster.

Perjalanan senang, sedih, bahagia, dan haru begitu terasa dirasakan. Hal ini mem­buat tak sedikit dari penonton meneteskan air mata.

Perjalanan yang tidak pernah mengenal rasa lelah itu, seolah menunjuk­kan bahwa kasih sayang orang tua tak akan pernah hilang sampai kapan pun. (gi/tok)

Editor : Yudha Satria Aditama
#ayla the daughter of war #TURKI #tentara