Belanja online telah menjadi gaya hidup sebagian besar anak muda saat ini. Kemudahan akses internet dengan berbagai platform e-commerce mendorong sektor ini berkembang pesat, termasuk dalam mempermudah akses pembayaran menggunakan sistem cicilan atau paylater. Bagaimana Gen Z melihat fenomena ini?
DARI random sampling atau teknik pengambilan sampel survei dari kelas X, XI, dan XII SMAN 5 Tuban, sebanyak 94,4 persen siswa punya aplikasi belanja daring.
Hanya 5,6 persen yang mengaku tidak pernah install aplikasi belanja online seperti Shopee, Tokopedia, Bukalapak, Lazada, dan semacamnya.
Sedangkan kebutuhan yang banyak dibeli dari toko online itu meliputi keperluan sekolah (11,1 persen), keperluan hobi (22,2 persen), punya aplikasi tapi tidak pernah beli (13,9 persen), dan kebutuhan lain sebanyak 52,8 persen.
Masih dalam survei yang sama, sebanyak 94,4 persen pengguna aplikasi e-commerce mengaku tidak pernah pakai paylater atau pembelian sistem cicilan.
Hanya 2,8 persen siswa yang mengaku pernah pakai paylater tapi sudah lunas, dan 2,8 persen lain mengaku masih punya cicilan di paylater.
Seperti diketahui, pembayaran dengan menggunakan paylater tengah digandrungi oleh anak muda.
Kemudahan pembayaran yang bisa dilakukan setelah mendapatkan barangnya. Paylater sering dijadikan pilihan anak muda ketika mereka tidak punya uang namun ingin berbelanja.
Namun faktanya di SMAN 5 Tuban, masih banyak yang ogah pakai paylater.
Mayoritas siswa memilih aman dengan menjauhi sistem cicil yang sering kali dirasa merugikan konsumen karena bunga yang tinggi dan sistem tagihan yang meresahkan.
Mereka lebih memilih belanja menggunakan pembayaran langsung atau cash.
Yupita, salah satu siswi yang tidak pernah menggunakan paylater menyampaikan, dirinya lebih memilih untuk menggunakan metode pembayaran lain ketika belanja online.
Menurut dia, pembayaran dengan metode lain dirasa lebih mudah dipahami dari paylater.
‘’Yang familiar memang sistem cash on delivery (COD) dan shopeepay,” ungkapnya.
Yupita mengakui penggunaan paylater masih cukup asing di telinganya.
Menurut dia, cara aktivasi paylater dinilai ribet dan menakutkan. Meskipun registrasi hanya menggunakan kartu identitas, namun sebagai siswa, Yupita memilih menghindari dulu karena takut menjadi kebiasaan konsumtif.
Kesulitan yang sama juga dibenarkan oleh Clarisa Pramesti Diva Putri. Dikatakan dia, penggunaan paylater sangat berisiko.
Sebagai siswa yang belum mendapatkan penghasilan tetap, Clarisa mengaku takut jika tidak dapat membayar tepat waktu.
‘’Saya takut kalau semisal pakai paylater, terus nggak bisa bayar. Kan nanti saya juga yang repot,” kata Clarissa.
Cerita terkait anak muda yang terjerat paylater membuatnya semakin enggan untuk menggunakan paylater.
Disampaikan dia, penggunaan paylater rasanya seperti tengah meminjam uang bank. Ketika belum membayar pasti ada tagihan dari debt collector.
‘’Kalau lihat cerita di internet itu nyeremin. Jadi saya makin nggak mau pakai,” tegas dia.
Secara terpisah, Thalita Melanist Zuly turut membenarkan bahwa penggunaan paylater memang agak menjerumuskan.
Selama ini dia memanfaatkan e-commerce untuk belanja karena tertarik dengan promo gratis ongkir dan diskon.
‘’Saya suka beli merchandise K-Pop cash saja. Takut pakai paylater, nanti tidak bisa bayar,’’ ungkap dia. (gi/yud)
Editor : Yudha Satria Aditama