Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Seberapa Dekat Gen Z dengan E-Commerce? Suka Belanja Daring, tapi Ogah Pakai Paylater karena Nyeremin

Hardiyati Budi Anggraeni • Jumat, 16 Agustus 2024 | 02:00 WIB

Photo
Photo
 

Belanja online telah menjadi gaya hidup sebagian besar anak muda saat ini. Kemudahan akses internet dengan berbagai platform e-commerce mendorong sektor ini berkembang pesat, termasuk dalam mempermudah akses pembayaran menggunakan sistem cicilan atau paylater.  Bagaimana Gen Z melihat fenomena ini?

DARI random sampling atau teknik pengambilan sampel survei dari kelas X, XI, dan XII SMAN 5 Tuban, sebanyak 94,4 persen siswa punya aplikasi belanja daring.

Hanya 5,6 persen yang mengaku tidak pernah install aplikasi belanja online seperti Shopee, Toko­pedia, Bukalapak, Lazada, dan semacamnya.

Sedangkan kebutuhan yang banyak dibeli dari toko online itu meliputi keperluan sekolah (11,1 persen), keperluan hobi (22,2 persen), punya aplikasi tapi tidak pernah beli (13,9 persen), dan kebutuhan lain sebanyak 52,8 persen.

Masih dalam survei yang sama, sebanyak 94,4 persen peng­guna aplikasi e-commerce mengaku tidak pernah pakai paylater atau pembelian sistem cicilan.

Hanya 2,8 persen siswa yang mengaku pernah pakai paylater tapi sudah lunas, dan 2,8 persen lain mengaku masih punya cicilan di paylater.

Seperti diketahui, pembayaran dengan menggunakan paylater tengah digandrungi oleh anak muda.

Kemudahan pemba­yaran yang bisa dilakukan se­telah men­dapatkan barang­nya. Paylater sering dijadikan pilihan anak muda ketika me­reka tidak punya uang namun ingin berbelanja.

Namun faktanya di SMAN 5 Tuban, masih banyak yang ogah pakai paylater.

Mayoritas siswa memilih aman dengan menjauhi sistem cicil yang sering kali dirasa merugikan konsumen karena bunga yang tinggi dan sistem tagihan yang meresahkan.

Me­reka lebih memilih belanja menggunakan pembayaran langsung atau cash.

Yupita, salah satu siswi yang tidak pernah menggunakan pay­later menyampaikan, diri­nya lebih me­milih untuk meng­gu­nakan metode pembayaran lain ketika belanja online.

Me­nurut dia, pembayaran dengan metode lain dirasa lebih mudah dipahami dari paylater.

‘’Yang familiar me­mang sistem cash on delivery (COD) dan shopee­pay,” ungkapnya.
Yupita mengakui penggunaan paylater masih cukup asing di telinganya.

Menurut dia, cara aktivasi paylater dinilai ribet dan menakutkan. Meskipun re­gistrasi hanya menggunakan kartu identitas, namun sebagai siswa, Yupita memilih menghin­dari dulu karena takut menjadi kebiasaan konsumtif.

Kesulitan yang sama juga di­benarkan oleh Clarisa Pra­mesti Diva Putri. Dikatakan dia, peng­gunaan paylater sa­ngat berisiko.

Sebagai siswa yang belum menda­patkan peng­hasilan tetap, Clarisa mengaku takut jika tidak dapat membayar tepat waktu.

‘’Saya takut kalau semisal pakai paylater, terus nggak bisa bayar. Kan nanti saya juga yang repot,” kata Clarissa.

Cerita terkait anak muda yang terjerat paylater membuatnya semakin enggan untuk meng­gu­nakan paylater.

Disampaikan dia, penggunaan paylater ra­sanya seperti tengah meminjam uang bank. Ketika belum mem­bayar pasti ada tagihan dari debt collec­tor.

‘’Kalau lihat cerita di internet itu nyeremin. Jadi saya makin nggak mau pakai,” tegas dia.

Secara terpisah, Thalita Mela­nist Zuly turut membe­narkan bahwa penggunaan paylater memang agak men­jerumuskan.

Selama ini dia me­manfaatkan e-commerce untuk belanja karena tertarik dengan promo gratis ongkir dan diskon.

‘’Saya suka beli merc­handise K-Pop cash saja. Takut pakai paylater, nanti tidak bisa bayar,’’ ungkap dia. (gi/yud)

Editor : Yudha Satria Aditama
#belanja daring #e-commerce #PayLater #toko online