Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Mantan Ajudan Kapolres Tuban yang Ditemukan Tewas Meninggalkan Dua Anak Balita

Andreyan (An) • Jumat, 16 Agustus 2024 | 22:04 WIB

Photo
Photo

RADARTUBAN - Setelah kasus polisi wanita membakar suaminya yang juga seorang polisi di Kota Mojokerto pada 10 Juni membikin pilu seluruh prajurit Polri. Kemudian, 11 Agustus lalu, Kapolsek Prajurit Kulon, yang juga di wilayah hukum Polresta Mojokerto mengakhirihidupnya dengan cara gantung diri . 

Kamis (15/8), kabut duka kembali menyelimuti Korps Bhayangkara. Kali ini terjadi di Kabupaten Tuban.

Seorang anggota Satlantas Polres Tuban berinisial TW ditemukan meregang nyawa di rumahnya, Perumahan Griya Manunggal Asri, Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding dalam kondisi gantung diri.

Berdasar informasi dari warga di lokasi kejadian. Insiden memilukan yang menambah tebal kabut duka di institusi Polri itu terjadi sekitar pukul 02.00 dini hari.

Saat pertama kali ditemukan, anggota bintara asal Desa Glodok, Kecamatan Palang itu sudah dalam kondisi tidak bernyawa dengan posisi menggantung.

Dalam foto yang beredar, di lehernya terlilit tali rafia merah. Tali itu diikatnya di sebuah teralis besi yang dijadikan pembatas antara ruang tamu dan dapur rumahnya.

Ketika Jawa Pos Radar Tuban ini mendatangi tempat kejadian perkara (TKP), kondisi rumah duka yang menghadap ke timur itu tampak sudah terpasangi garis police line, serta dalam keadaan steril—tanpa penghuni satu pun.

Beberapa warga yang ditemui wartawan koran ini tampak shock dengan kejadian naas tersebut. Mereka enggan untuk memberikan keterangan.

Kalau bersedia, tidak banyak yang disampaikan, dan menekankan betul agar namanya tidak ditulis dalam pemberitaan. SY, salah satu warga menuturkan, korban tinggal di perumahan Manunggal Asri lebih kurang empat-lima tahun terakhir.

Tinggal bersama istri dan kedua anaknya. Anak pertama usia sekitar 6 tahun, sedangkan anak kedua masih balita. Dituturkan SY, dalam kesehariannya, korban terbuka dan sering bersosialisasi dengan warga.

‘’Almarhum semasa hidupnya cukup baik. Juga sering membantu warga kerja bakti,’’ ucapnya.

Menurut pria paro baya itu, sehari sebelum kejadian tidak ada satu pun tanda-tanda yang mencurigakan.

Korban tampak sebagaimana hari-hari biasa. Hanya saja, malam sebelum peristiwa kelam itu terjadi, korban terlihat sendiri di rumahnya. Istri dan anaknya tampak tidak ada.

Namun, ketika berpapasan dengan dengan warga setempat tidak menyimpan masalah apa-apa. Tetap senyum dan menyapa seperti biasa.

‘’Sampai saat ini belum ada warga tahu penyebab meninggalnya,’’ ujarnya.

WW, warga lain menuturkan, selain dikenal baik oleh warga sekitar, polisi muda itu juga rutin salat berjamaah di musala. Juga tergabung dalam jemaah tahlil dan salawat perumahan.

Bahkan, terang dia, rutinan Jumat Wage baru saja dilangsungkan di rumahnya pada 26 Juli lalu.

‘’Dengan warga, beliau orangnya baik. Ikut rutinan Jumat Wage, kadang juga salat berjamaah di musala. Makanya, tidak ada yang menyangka kok sampai seperti ini (meninggal dengan gantung diri, Red),’’ tandasnya. (an/tok)

Editor : Yudha Satria Aditama
#kasuistika #bunuh diri #gantung diri #polisi