Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Dilema Penemuan Situs Bersejarah di Tuban, Baiknya Disembunyikan atau Dipublikasikan?

Yudha Satria Aditama • Selasa, 20 Agustus 2024 | 02:05 WIB
GALI SEJARAH: Tim BPCP Jatim melakukan survei ekskavasi pada situs Atas Angin di Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding.
GALI SEJARAH: Tim BPCP Jatim melakukan survei ekskavasi pada situs Atas Angin di Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding.

RADARTUBAN – Penemuan prasasti atau artefak bersejarah di Tuban terkadang malah merugikan situs-situs tersebut. Ketika publik mengetahuinya, sering kali muncul tangan-tangan iseng yang merusak atau mencuri benda-benda bersejarah itu.

Dosen Seni Budaya Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow) Tuban, M. Hasyim, menyatakan bahwa Tuban, sebagai salah satu kota tertua di nusantara, memiliki banyak situs bersejarah yang cukup lengkap.

Tuban mencakup berbagai periode sejarah, mulai dari zaman kerajaan Kahuripan yang didirikan oleh Airlangga (900-an), Majapahit (1200-an), era Islam (1300-an), Kolonial Belanda (1800-an), hingga pra-kemerdekaan (1900-an). “Selama ini, situs sejarah hanya ditemukan, dicatat, lalu lenyap tak jelas nasibnya,” ungkapnya.

Sejarawan dan budayawan Tuban ini mengaku sering melakukan penelusuran ke berbagai lokasi yang memiliki peninggalan sejarah. Dia sering menemukan bukti sejarah yang masih tersimpan di tanah.

Meskipun sebagian sudah rusak, bentuk aslinya masih dapat dikenali karena belum banyak tersentuh tangan-tangan iseng. “Di kecamatan pinggiran di Tuban masih ada prasasti yang masih utuh dan belum terjamah tangan manusia,” tambahnya.

Hasyim juga mengatakan bahwa di daerah pinggiran Tuban, banyak prasasti yang bisa ditemukan. Dia memiliki catatan tentang beberapa prasasti yang belum tercatat di BPCB.

Namun, dia enggan untuk mengeksposnya karena khawatir prasasti-prasasti tersebut akan rusak atau dicuri oleh kolektor yang sering berkeliaran di Tuban. “Jika ada jaminan bahwa aset sejarah ini akan dijaga dan dirawat, saya akan menunjukkan semua lokasinya,” tuturnya.

Anggota komunitas pelestari pusaka Megalamat ini mengatakan bahwa selama ini dia sering mendampingi peneliti dan arkeolog dari berbagai kota yang melakukan riset di Tuban.

Banyak peneliti yang merasa heran karena situs-situs sejarah yang ditemukan nyaris tanpa pengamanan. Hanya tergeletak dan bisa dirusak oleh siapa saja.

“Di Mojokerto, misalnya, situs sejarah sekecil apa pun dianggap sebagai aset dan minimal dijadikan tempat wisata dengan perawatan yang jelas,” ujarnya.

Kolektor pusaka ini menambahkan bahwa menjaga aset sejarah merupakan kewajiban bersama. Namun, diperlukan aturan tegas yang menjadi payung hukum agar temuan-temuan sejarah tidak mudah rusak atau hilang.

Beberapa penemuan sejarah yang terekspos sering menarik perhatian wisatawan dari generasi milenial. Sayangnya, banyak dari mereka hanya memanfaatkan situs tersebut untuk berfoto tanpa mempedulikan kebersihan dan keaslian aset bangsa.

Minimnya kepedulian terhadap sejarah terlihat dari kurangnya literasi mengenai masa lalu Tuban. Misalnya, tidak ada referensi yang kuat menjelaskan asal-usul nama Tuban.

Menurut Hasyim, Tuban yang dikatakan berasal dari kata metu banyu (keluar air) karena dicetuskan oleh Sunan Bonang, masih minim bukti. “Tuban lahir tahun 1293, sementara Sunan Bonang lahir 1465. Jelas ada Tuban dulu baru Sunan Bonang,” jelasnya.

Dari satu bukti tersebut, lanjut Hasyim, asal-usul Tuban masih diragukan kebenarannya. Hal ini wajar karena banyak situs sejarah yang tidak lagi bisa dilacak keberadaannya. Dia berharap ada kesadaran dari pemerintah dan masyarakat agar identitas bangsa tidak hilang begitu saja. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#situs bersejarah di Tuban #Sunan Bonang #kolektor pusaka #nusantara